Language (bahasa) adalah sebuah system konvensional yang diucapkan, ditulis, dan disimbolkan oleh makhluk hidup untuk menyampaikan keinginannya, pemikirannya dan pengetahuannya. Sedangkan primitive (primitif) adalah sebuah keadaan yang sangat sedarhana, belum maju, atau disebut juga kuno.
Ungkapan no language is primitive ini saya dapatkan dari dosen bahasa inggris kuliah dakwah. Beliau bilang ”Tidak ada satu bahasa pun di dunia ini yang primitif” sekali pun itu adalah bahasa madura misalnya, karena setiap bahasa memiliki kaedah dan pakarnya masing-masing. Dan jangan pula kita menganggap bahwa orang primitif pastilah bahasa yang digunakan juga primitif, itu sebuah pemikiran yang kolot dan picik. Dalam fenomena bangsa Arab kita mendapatkan hal yang sebaliknya, ternyata orang yang hidup di gurun pasir mengembalakan kambingnya di padang rumput, hidup jauh dari peradaban kota yang katanya modern. Ternyata jika kita dengar mereka berbicara kita akan mendapatkan bahasa yang masih murni, bahasa yang sesuai dengan kaedah, bahasa yang lebih fasih dari pada penduduk kota, begitu juga dengan ulama-ulama lughoh kita hidup di gurun pasir bertahun-tahun hanya untuk belajar bahasa Arab yang fasih.
Tak ubahnya di Indonesia, ketika penulis sekolah di jawa tengah tepatnya di Rembang, penulis mendapati teman-teman yang berasal dari pedesaan jika berbicara dengan bahasa Indonesia, kuping saya menjadi geli karena mereka berbicara sangat baku sekali, bahasa mereka tidak lepas dari EYD (ejaan yang disempurnakan). Berbeda sekali dengan temen-teman di Jakarta, mereka menggunakan bahasa prokem, atau bahasa gaul yang selaras dengan kamus gaul Debby Sahertian yang berisikan kata-kata gaul misalnya kata TiTi DJ (hati-hati di jalan), begindang (begini), cucok (cocok), yang menurut saya adalah salah satu penyebab rusaknya kefasihan dan keindahan berbahasa Indonesia. Anehnya anak-anak muda sekarang menganggapnya adalah suatu hal yang modern, funky, keren dan enggak ndeso. Lambat laun bahasa indonesia semakin tenggelam dan tidak terpakai.
Beberapa hari yang lalu di Rumah sakit pusat Libya, penulis mendapati kenyataan yang lebih pahit dari cerita teman yang berada disana, mengatakan bahwa ketika dia bicara dengan Arab fushah pengunjung lain menertawakannya, seakan-akan bahasa arab Fushah bahasanya orang gua, bahasa yang tidak layak dipakai, bahasa yang aneh didengar bagi mereka karena tidak pernah diucapkan. Bahkan ada salah satu pengunjung mengatakan “teman saya itu tidak bisa bahasa Arab dia hanya bisa Fushah”. Teman saya menjadi bingung dan geli sendiri mendengar ucapan itu. Lalu yang menjadi pertanyaan, Apa pengertian bahasa Arab bagi mereka, fushah kah, lahjah kah....???????? yang jelas telah salah kaprah. Ternyata benar apa yang dikatakan ustadz Ustho bahwa bangsa Arablah yang menyelewengkan bahasa Arab. Dengan seiringnya waktu bahasa memang banyak berubah, dengan adanya penambahan istilah-istilah baru didalam kamus, dan variasisasi dalam gaya bahasa. Akan tetapi kaedah tidak pernah berubah. karena maf'ul tetaplah manshub sampai kapan pun juga.
No language is primitive, tapi waktu mengatakan manusia lah yang merubah bahasa menjadi primitif sehingga hilang darinya cita rasa bahasa yang sesungguhnya. No language is primitive jika kita mengaplikasikannya sesuai dengan kaedah, No language is primitive because every language it's own genius. No language is primitive jadi apa salahnya kita mempelajari seluruh bahasa yang ada di dunia. No language is primitive because every language it's key of knowledge. Do my language is primitive ??????????????.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
post your comment now....