Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Oktober 2011

Kecanduan masturbasi: Cara mengatasinya

oleh Akhwat ABG
ustadz tolong saia ustadz sebelum saia terus melakukannya… berdosakah saia bila saya melakukan hal ini: bila saia kangen sama pacar saia berimaginasi bahwa bantal guling atau kasur seolah pacar saia. sehingga saia memeluk, mencium, ‘mestubui’, aneh memang tapi itulah yang saia lakukan. saia merasakan kepuasan tersendiri saat melakukannya, bahkan sampai ‘tumpah’ dan mesti mandi besar. saia melakukan hal tsb tentunya karena tidak berani melakukan dengan pacar saia. sekian…terimakasih ustadz.
Mengenai hukum onani/masturbasi, sebagian besar ulama mengharamkannya. Sebagian ulama seperti Imam Hanbali dan Ibnu Hazm menghalalkannya. Sedangkan ulama-ulama Hanafiah membolehkannya dalam keadaan “takut berbuat zina” dan “tidak mampu kawin”. (Lihat Halal dan Haram dalam Islam.)
Di sini aku tidak hendak memperdebatkan hukumnya. Aku lebih tertarik untuk mengemukakan solusinya. Cara-cara untuk mengatasi kecanduan masturbasi itu diantaranya sepuluh langkah berikut ini.
1) Yang terpenting, yakinlah bahwa kau mampu mengatasi masalah ini. Kau sudah mampu menahan diri untuk tidak berzina dengan pacarmu, tentulah kau juga mampu menahan diri untuk tidak membiasakan diri melakukan onani.
Untuk memperkuat keyakinan diri itu, biasakanlah diri mengucap dzikir yang relevan, seperti: “Tetapi di sisi Allah-lah tempat kembali terbaik.” (QS Ali ‘Imran [3]: 14)
2) Cari tahulah apa saja keadaan-keadaan dirimu yang memicu dirimu membiasakan diri melakukan masturbasi. Misalnya, kau biasa bermasturbasi setiap kali merasa kesepian, bosan, atau tertekan (stres). Kalau memang begitu, waspadalah dirimu setiap kali berada dalam keadaan begitu.
Dalam keadaan begitu, tanamkanlah kembali keyakinanmu bahwa kau mampu menahan diri untuk tidak membiasakan diri melakukan onani. Atasilah berbagai keadaan yang tidak nyaman itu dengan solusi lain yang tidak bersifat seksual. Misalnya dengan cara berdzikir.
3) Temukanlah sebab-sebab mengapa kau mampu menahan diri untuk tidak berzina dengan pacarmu. Lalu berlakukanlah hal-hal yang relevan dengan kasus kebiasaan masturbasimu. Misalnya, kalau kau mampu menahan diri untuk tidak berzina dengan pacarmu karena kau menghargai dirinya setinggi-tingginya, maka hargailah juga dirimu sendiri setinggi-tingginya.
4) Hindari menyendiri! Selalulah bersama orang lain (yang tidak membangkitkan rangsangan seksual), kecuali bila terpaksa.
Bila terpaksa menyendiri, misalnya di kamar mandi, jangan berlama-lama! Lima menit sudah cukup.
Bila kau membutuhkan waktu yang relatif lama ketika menyendiri (misalnya di kamar mandi) lantaran berbagai aktivitas sekaligus, pisahkanlah aktivitas-aktivitas itu. Jadi, mandi, keramas, gosok gigi, dan lain-lain, hendaknya dilakukan dalam waktu yang tidak bersamaan.
5) Di tempat tidur, singkirkanlah jauh-jauh guling dan barang-barang lain yang dapat kau gosok-gosokkan ke alat kelaminmu. Selain itu, pakailah celana dan baju tertentu yang membuatmu sulit bermain-main dengan alat kelaminmu.
Setiap kali kau merasa nafsu birahimu memuncak di tempat tertentu (misalnya di kamar mandi atau tempat tidur), beranjaklah dari situ. Pergilah ke tampat lain. Temuilah orang-orang, ngobrollah tentang apa saja yang jauh dari rangsangan seksual.
6) Di mana pun, hindari pornografi atau pun yang semi porno. Jagalah pandangan mata dan pendengaran telingamu dari segala yang membangkitkan birahi.
7) Setiap kali bangun tidur, segeralah bangkit dengan penuh antusias. Jangan bermalas-malasan.
8) Sibukkanlah dirimu dengan berbagai aktivitas yang kau sukai dan jauh dari rangsangan seksual. Utamakanlah aktivitas yang dilakukan bersama orang lain.
Misalnya, kau suka membaca buku dan main catur. Ketika kau merasa nafsu seksualmu bangkit alias terangsang, lebih baik main catur bersama orang lain daripada membaca buku sendirian.
9) Sibukkanlah juga pikiranmu dengan berbagai hal yang kau sukai dan jauh dari rangsangan seksual.
10) Bila perlu, mintalah bantuan profesional dari ahlinya, seperti psikolog dan psikiater.

from : http://pacaranislami.wordpress.com/2008/09/03/kecanduan-masturbasi-cara-mengatasinya/

Kamis, 27 Oktober 2011

GURU SEJATI

eramuslim - Guru. Digugu dan ditiru, falsafah ini demikian akrab dalam diri kita. Dan memang semestinya begitu, mengingat seorang murid akan demikian mudah mengidentifikasi segala perilaku dan kebiasaan seorang guru. Guru (guru dirumah/orang tua, guru di sekolah formal maupun non formal) mengemban tugas mulia, yaitu mendidik dan membina para murid untuk menjadi anak-anak yang pandai, bermoral tinggi dan berakhlaq mulia. Sehingga seorang guru bukan hanya bertugas mentransfer ilmu untuk menjadikan murid-muridnya hapal dan mengerti materi pelajaran yang diberikan, namun seorang guru juga harus mampu melakukan transfer nilai untuk menjadikan murid-muridnya insan-insan mulia.
Karenanya, seorang gurupun harus memiliki bekal aqidah yang kuat disamping bekal ilmu yang memadai. Sehingga dia mampu mengintegrasikan segala ilmu yang diajarkan kepada para muridnya dengan kekuasaan dan keesaan Allah. Seorang guru biologi dapat menyadarkan akan ke-Agungan Allah Sang Pencipta, ketika menjelaskan berbagai sistem yang terdapat dalam tubuh manusia. Seorang guru kimia dapat mengantarkan muridnya mengenal kekuasaan Allah ketika menjelaskan berbagai unsur dan hasil reaksinya, seorang guru sejarah dapat menunjukkan kepada para muridnya ibroh (pelajaran berharga) dari peristiwa di masa yang lalu, seorang guru bahasa dapat mengajarkan sopan santun dan tatakrama melalui tatacara berbahasa, dan sebagainya. Hingga murid-murid yang dihasilkan adalah murid-murid yang bukan hanya pandai, namun juga murid yang benar-benar mengenal Robbnya dan berakhlaq mulia.
Guru sejati adalah guru yang senantiasa menimba ilmu, hingga ilmunya senantiasa berkembang dan tidak ketinggalan jaman. Berwawasan luas sesuai dengan tuntutan jaman, dan bijaksana. Guru sejati ibarat orang tua. Karenanya, guru sejati adalah guru yang memperlakukan murid-muridnya bagaikan anak-anaknya sendiri. Selalu menyayangi, melindungi dan menjaga perasaan murid-muridnya. Membangkitkan semangat kepada anak-anak yang kurang pandai, dan membuka kesempatan yang luas bagi anak-anak yang memiliki potensi. Sehingga guru akan bersungguh-sungguh berusaha untuk menjadikan murid-muridnya berhasil dalam belajar dan sukses dalam mengarungi kehidupan.
Rosulullah Muhammad Saw, guru yang paling mulia bersabda: "Aku ini kepadamu semua (yakni para sahabat) tiada lain hanyalah sebagaimana seorang ayah terhadap anaknya” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).
Rasulullah bukan hanya berusaha untuk menjadikan para sahabat dan murid-muridnya menjadi faham akan ajaran Islam yang disampaikannya, namun juga sangat ingin menyelamatkan umat dari siksa api neraka.
Guru sejati adalah seperti seorang pemimpin. Memimpin siswa dengan adil dan bijaksana, mengarahkan kepada kebenaran dan melindunginya dari kemaksiatan. Tidak memberi nilai lebih tinggi kepada anak yang lebih disenangi, dan menilai rendah kepada anak yang kurang disenangi, namun memberi penilaian sesuai dengan kadar prestasi yang dimiliki.
Guru sejati memiliki tujuan Robbani. Berusaha mengantarkan murid-muridnya kepada tujuan agung, melakukan segala perbuatan berdasarkan atas keinginan untuk mencapai ridho Allah, bukan hanya untuk mengejar nilai nominal yang diberikan guru. Sehingga seorang murid akan menjadi sadar, bahwa mencari ilmu bukanlah sekedar untuk memperoleh nilai tinggi, tetapi mencari ilmu adalah salah satu tugas mulia. Yaitu menunaikan kewajiban agama. “Mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan”.
Hingga seorang guru harus melakukan tugasnya dengan ikhlas dan penuh kesabaran, karena dalam menjalankan tugas akan selalu diwarnai oleh berbagai ujian dan cobaan.
Robb, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berikanlah kepada kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan pula kepada kami yang bathil itu bathil, dan berikanlah kepada kami kekuatan untuk menjauhinya. Aamiin. Wallahu 'a’laam bishshowwab.
Ummu Shofi. ari_aji_astuti@yahoo.com
(Dik Nina, dik Titik, dik Heni, dan semuanya, tolong do’akan saya ya. Jazakumullah)

Risiko Seksi Ala Britney Spears !

Usia Mella baru sweet seventeen. Namun seperti anggota geng gaulnya, dia
gemar tampil seksi dengan kaus pas badan plus celana ketat sebatas pinggul.
Biar lebih pede, kilahnya. Entahlah, apakah dia bakal tetap pede, jika tahu
kebiasaan berketat ria itu bisa merongrong saraf dan kulitnya nan mulus.

Sebenarnya, bukan salah bunda mengandung, jika Mella tergiur berdandan ala
Britney Spears, Jennifer Lopez, Shakira, atau Nafa Urbach. Wanita mana sih
yang enggak kepingin tampil seksi dan dipuja lelaki seperti para bintang
itu? Kalau kerut di kulit bisa dihapus, barangkali nenek-nenek pun banyak
yang ikut. "Gaya hip memang sedang in. Bukan hanya di kalangan anak muda
dan remaja, orang dewasa pun banyak yang suka," bilang Barli Perdana
Asmara, perancang busana dari rumah mode Nuimasa, Jakarta.

Sesuai namanya, hip dalam bahasa Inggris berarti pinggul, hip style
ditandai dengan celana panjang ketat yang tak sepanjang biasanya. Jika
celana panjang normal menempel di pinggang, model hipster nyangkut di
pinggul. Kalau dipadukan dengan kaus pendek ketat, pemakainya jelas
terlihat lebih seksi."Prinsipnya memang untuk membuat tubuh pemakai lebih
ramping dan seksi," imbuh Barli.

Sepintas, gaya ini lebih cocok buat pemilik badan kurus, meski tak jarang
wanita "sedikit gemuk" pun ikut menjajal. Maklum, aku perancang busana
berusia 25 tahun itu, hipster kini identik dengan. busana orang modern.
Kalau enggak bergaya hip, sepertinya ketinggalan zaman.

"Padahal, mode itu cocok-cocokan dan tidak bisa disamaratakan," sambung
Barli. Kalau pas di badan, tentu bikin seksi. Kalau enggak cocok, hmmm,
tebak sendiri.

Waspadai Jepitan Sementara

Nah, sembari memikirkan apakah hip style cocok untuk gaya berbusana Anda,
sebaiknya pertimbangkan juga kabar terakhir dari seberang lautan.

Dr. Malvinder Parmar dari Timmins & District Hospital, Ontario, Kanada,
baru-baru ini menyatakan, celana ketat sepinggul berpeluang menimbulkan
penyakit paresthesia. Istilah paresthesia sendiri, menurut Kamus Kedokteran
Dorland, berarti perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas
seperti terbakar dan sejenisnya.

Dalam tulisannya di Canadian Medical Association Journal, Parmar mengaku,
setahun terakhir ini kedatangan cukup banyak pasien yang bisa dikategorikan
sebagai korban paresthesia. Dia sudah mengobati sedikitnya tiga wanita
berusia 22 - 35 tahun yang mengeluhkan rasa panas dan gatal di sekitar
paha. Gangguan saraf ringan itu terjadi lantaran mereka suka sekali memakai
celana ketat sebatas pinggul, setidaknya dalam enam bulan terakhir.

"Mereka mengalami gejala yang sama, gatal dan panas serta kulit di sekitar
paha menjadi lunak," kata Parmar. Walaupun kerusakan saraf itu tidak masuk
kategori serius, hal itu cukup mengganggu aktivitas korbannya. Hasil
penelitian Parmar menunjukkan, kelainan itu menjadi permanen selama celana
ketat sepinggul melilit di tubuh. Itu sebabnya Parmar menyarankan menjauhi
segala macam pakaian ketat selama terapi.

Resep puasa seksi itu terbukti manjur. Setelah enam minggu mengubah gaya
pakaian, pasien-pasien mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Namun, dia
tak bisa menjamin para korban mode ini tak akan mengalami gangguan serupa
jika kembali tergoda ber-hip style. Apa kalau pakajan itu dikenakan dalam
waktu lama, entah karena tuntutan profesi maupun hobi. "Saya sarankan,
sebaiknya tinggalkan pakaian sepinggul. Pakailah yang longgar-longgar atau
baju terusan saja," sambung Parmar.

Pendapat ahli medis bule itu diamini tenaga medis lokal Dr. Andradi
Suryamiharia Sp.S(K), spesialis saraf yang sehari-harinya bertugas di RSUPN
Cipto Mangun Kusumo, Jakarta. Menurut staf pengajar FK-UI itu, sebagai
gangguan saraf, paresthesia gampang dikenali dan dua gejalanya kesemutan
dan lama-kelamaan berubah menjadi mati rasa.

Kesemutan terjadi lantaran terganggunya saraf tepi, yakni saraf yang berada
di luar jaringan otak di sekujur tubuh. Umumnya karena tertekan, infeksi,
maupun gangguan metabolisme.

"Sebetulnya, ini gejala yang biasa kita rasakan sehari-hari. Misalnya, saat
duduk atau menekuk kaki terlalu lama, saraf dan aliran darah pasti
terganggu. Mirip kabel listrik yang tertekan, aliran setrumnya 'kan enggak
lancar," ujar Andradi. Nah, pemakai celana ketat sepinggul yang ingin terus-
menerus tampil seksi, berpeluang mengalami gangguan saraf, karena jepitan
sementara tadi. Memang, saraf tak sampai putus, tapi yakinlah, penderitanya
bakal sangat terganggu.

Ancaman Jamur

Selain paresthesia, penggila berat pakaian ketat juga kudu mempertimbangkan
faktor kesehatan kulit. Pasalnya, gangguan saraf masih bisa sembuh tanpa
meninggalkan bekas, tapi iritasi dan eksim? Weleh-weleh, percuma punya bodi
sintal kalau dalemnya belang-belang.

Versi Dr. Kusmarinah Bramono SpKK, spesialis kulit dan kelamin RSCM, pada
dasamya semua jenis pakaian ketat berpotensi menimbulkan tiga macam
gangguan kulit. Apakah itu sebatas pinggul maupun di atas pinggul.

Pertama, masalah kelembapan yang memungkinkan jamur subur berkembang biak.
Belakangan ini, pasien korban jamur yang berobat ke Klinik Kulit dan
Kelamin RSCM meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang tahun
2002, sekitar 35% pasien terbukti kena serangan jamur. Usia mereka berkisar
15 - 45 tahun. Meski tak semuanya berhubungan dengan kebiasaan berbusana,
tetapi kecenderungan meningkatnya jamur sebagal sumber penyakit kulit mesti
diwaspadai.

Idealnya, di negara tropis seperti Indonesia, pakaian ketat atau terlalu
tebal memang kudu dihindari. Kulit jadi kurang ruang untuk "bernapas",
sementara cairan yang keluar dari dari tubuh lumayan banyak. Akibatnya,
permukaan kulit menjadi lembap. Kalau tak diimbangi busana yang tepat,
jamur akan lebib mudah beranak pinak. Yang banyak ditemui adalah jamur panu
(bercak putih, cokelat, atau kemerahan), jamur kurap dengan bintik menonjol
gatal, serta jamur kandida yang basah dan gatal.

Berbekas hitam

Setelah kelembapan, kontak langsung antara kulit dengan benda asing juga
memungkinkan terjadinya iritasi. Salah satu penyakit kulit yang masuk
golongan ini adalah dermatitis kontak.

Sesuai namanya, gejala gatal dan beruntusan yang menjadi trade mark sang
dermatitis hanya muncul bila terjadi gesekan antara kulit dengan benda dan
luar tubuh.

Benda asing yang berpotensi gesek tinggi tak cuma benda keras, semisal
perhiasan, jam tangan, atau ikat pinggang. Busana sehari-hari, jika terlalu
ketat menempel di tubuh, atau terbuat dan bahan berkontur kasar; juga dapat
memicu luka.

"Gampangnya, lihat saja pasien yang harus lama berbaring di tempat tidur.
Kalau perawatnya kurang telaten, bagian belakang tubuh si pasien yang harus
lama berbaring di tempat tidur. Kalau perawatnya kurang telaten bagian
belakang tubub si pasien biasanya agak memerah dan lecet," bilang Andradi.

"Sedangkan celana ketat terutama berpengaruh pada kondisi kulit di sela-
sela paha. Awalnya mungkin cuma radang ringan. Tapi, kalau prosesnya
berlangsung lama, bisa menimbulkan bercak hitam di pangkal paha," kata
Kusmarinah Bramono. Jika si pemilik tubuh insaf dan menjauhkan diri dari
busana ketat, warna hitam tadi mungkin saja berkurang atau hilang sama
sekali. Namun, Kusmarinah mengingatkan, proses menghilangkan noda hitam itu
tak bisa dilakukan secepat membalik telapak tangan.

"Tidak bisa dipercepat, memakai krem pemutih sekali pun," cetusnya.
Soalnya, produk pemutih yang kini banyak beredar di pasar lebib berfungsi
sebagai pencegah terbentuk nya pigmen atau zat pewarna kulit yang baru.
Jadi, sama sekali bukan penghilang noda. Bila pigmen masih berada di
lapisan tanduk atau lapisan kulit paling luar, noda hitam dapat lebih cepat
hilang. Lain halnya kalau sudah menembus lapisan kulit lebih dalam, raibnya
bisa dalam hitungan tahun.

Jenis penyakit kulit lain yang biasa menghinggapi pemakai celana ketat
adalah biduran atau kaligata. Bentuknya bentol-bentol minip bekas gigitan
ulat bulu. Tingkat keparahannya mulai bentol sebesar biji jagung hingga
bibir bengkak. Penyakit itu bisa muncul di bagian tubuh mana pun.
Berdasarkan pengamatan Kusmarinah, banyak pasien tidak menyadari, biduran
dapat juga disebabkan oleh tekanan serta ketatnya pakaian.

Untuk mengusir iritasi dan biduran, sebagian orang menyiasatinya dengan
memakai bedak. "Tapi fungsi bedak 'kan cuma mengeringkan. Jika tennyata
bedak tadi tak cukup bagus untuk menyerap keringat, kulit menjadi lebih
lembap. Akhirnya, malah dihampiri jamur," jelas Kusmarinah lagi.

Setelah ketat terus longgar

Jadi, bagaimana cara aman agar bisa tetap tampil seksi tanpa kehilangan
bodi halus nan mulus? Paling aman, ikuti saja saran Parmer dan Andradi,
yakni say goodbye pada pakaian ketat. Baik yang sepinggul, di atas pinggul,
apalagi di bawah pinggul.

Kalaupun terpaksa berketat ria, "Jangan terlalu sering dan terlalu lama
memakainya, saran Andradi. Menurut perhitungan medis pria setengah baya
itu, mengenakan celana ketat, apalagi sebatas pinggul mestinya paling lama
dua jam. Setelah itu, segera ganti dengan celana longgar atau baju terusan,
agar peredaran darah lancar dan pori-pori kulit dapat leluasa bernapas

Saran untuk tidak berlama-lama dalam berbusana seksi ini didukung penuh
oleh Barli Perdana Asmara. Pria modis itu mengaku, pernah merasakan gejala
awal paresthesia. "Saat itu saya menghadiri sebuah acara dengan celana
ketat dari kulit. Walau hanya dipakai beberapa jam, paha saya sempat terasa
panas. Ini mirip gejala yang dibilang para dokter. Barangkali karena
gesekan dan kelembapan yang tinggi," kisahnya lagi.

Bukan cuma tingkat keketatan yang harus diperhatikan, bahan yang dipilih
pun ikut menentukan tingkat kelembapan. Bahan jin dan kulit, jika
diaplikasi mengikuti mode celana sepinggul dan dipakai dalam jangka waktu
panjang, jelas gampang mengundang paresthesia. Sebagai gantinya, Barli
merekomendasikan celana dari bahan katun, poliester, atau bludru elastis.
Tiga jenis kain yang disebut terakhir itu lumayan mengikuti bentuk tubuh,
hingga dapat meminimalkan gesekan. Sebagai perancang busana, Barli memang
tak mungkin menyarankan kaum muda atau remaja yang tergila-gila dengan
dandanan hip style mengubah total gaya hidupnya. Apalagi untuk
membumihanguskan gaya yang tengah mendominasi dunia mode itu; rasanya hal
yang mustahil. "Tapi kalau memang hip style berpotensi mengganggu
kesehatan, sebaiknya celana sepinggul memang tidak dipakai sembarangam.
Tampil modis 'kan enggak harus mengorbankan kesehatan," terang Barli.

Jalan tengah, dia menyarankan penyuka hipster agar pilih-pilih tempat dan
waktu saat memamerkan busana yang dipopulerkan para selebriti ini. "Lagi
pula, tidak semua aktivitas layak dihadiri dengan memakai celana sebatas
pinggul," tambah Barli.

Pada acara dan tempat tertentu, gaya berpakaian yang kerap menampilkan
pusar pemakainya ini bisa saja dianggap melecehkan nilai kesopanan. Kalau
kebetulan punya calon mertua kolot, calon suami/istri bisa-bisa melayang.

Artinya, tampil seksi memang hak asasi. Namun, kalau ujung-ujungnya mesti
ke dokter saraf atau dokter kulit, bahkan kehilangan "gandengan", jadinya
gawat juga 'kan.

Dari Abu Hurairoh ra. Katanya : Kudengar Rasulullah saw berkata : sesuatu
yang aku larang memperbuatnya maka jauhilah dan sesuatu yang aku suruh
memperbuatnya maka kerjakanlah sekedar kuasamu. Hanya saja yang
membinasakan ummat sebelum kamu karena banyak pertanyaan mereka dan tidak
mengikuti perintah Nabi-nabi mereka. (HR. Muslim No. 1309)

Rasulullah saw bersabda : "Akan ditimpakan kehinaan dan kerendahan bagi
orang-orang yang menyalahi perintahku". (HR Ahmad dengan sanad hasan)

Sumber : Mailing List Majalah Permata
dipublikasikan oleh:
Redaksi [15/12/03 - 11:00:24]

Pacaran !!! Putus !!! Apa Hubungannya ?

Memang susah di jelaskan dan menjadi makan sehari-hari para penikmat dosa

         Kehidupan remaja sangat rentan terhadap gangguan dari luar lingkungan apalagi sekolahan. Ehm...... gimana ya jelasinnya. disini saya membahas tentang bab cinta yang identik dengan pacaran dan akhir yang mengenaskan, eh, juga bisa dibilang tragis, kadang aja juga yang mati gara-gara putus cinta atau putus ma pacar.

         Melihat sisi baik dan sisi buruk jika bicara soal cinta, kadang remaja sekarang memandang sekilas... dan jawabannya heemm... enaknya bercinta... tapi di satu sisi yang jarang kita lihat, pacaran juga mempunyai sisi buruk kalo kita cermat dalam melihat dari segala sisi. Bayangkan ketika kita berdua sama pacar, mojok kesana kesini, mencari tempat yang sesepi mungkin dan tak terlihat oleh orang... huum..... apa yang anda pikirkan... ? tapi ketika kita cermat dalam menyikapi hal tersebut. kita harus melihat dari berbagai

Sabtu, 21 Agustus 2010

Menulis melancarkan berbicara


www.quickblogcast.com
Bukan sulap bukan sihir. Jika diasah terus, menulis justru bisa melancarkan bicara. Bukan hanya lancar, tapi juga bisa merunut poin-poin yang perlu disampaikan secara sistematis. Saya pernah merasakan efek samping menulis tersebut. Percayalah, bukan hanya saya ternyata yang merasakan lancar berbicara di depan publik yang merupakan efek samping dari menulis. Beberapa kawan saya yang saya tahu betul sejak awal susah menyampaikan informasi lewat lisan, setelah beberapa kali secara rutin saya ajak untuk nulis, akhirnya lancar juga. Bahkan bisa mengeksplorasi kelucuan ketika dia menyampaikan secara lisan. Persis sama ketika dia menuliskannya dalam tulisan-tulisannya. Keren!
Ya, jika Anda termasuk yang susah berbicara di depan umum. Mungkin salah satu terapinya adalah berlatihlah untuk menulis. Terus menulis dan menulis terus. Suatu saat, latihan itu akan memberikan efek samping, bahwa Anda akan mulai berani bicara di depan publik. Di depan banyak orang. Atau setidaknya lancar ketika menyampaikan dalam rapat. Pada tahap awal memang Anda bisa membuat semacam poin-poin yang akan disampaikan. Nah, jika kita tidak terbiasa menulis, poin-poin agenda rapat saja akan sulit diungkapkan. Tapi jika sudah terbiasa menulis, gambaran itu dengan mudah terpetakan. Berikutnya, tentu saja ketika akan disampaikan secara lisan, kita setidaknya sudah menyerap informasi itu 50%-75%. Sehingga ketika kita benar-benar menyampaikannya di depan publik, kita sudah mampu memetakan apa yang akan dibahas. Insya Allah lancar mengalir dan bisa jadi deras.
Bagi Anda yang ingin bisa menulis, cobalah mulai dengan menuliskan hal-hal yang paling Anda sukai dan paling Anda kuasai. Saya selalu mengulang hal ini di setiap kesempatan karena manfaatnya insya Allah akan terasa sekali. Jangan putus asa pula. Jika gagal pada tulisan pertama, lakukan pada tulisan kedua, ketiga, keempat, bahkan kesepuluh dan mungkin saja keseratus. Tapi, berdasarkan pengalaman sih, tak sampai tulisan kesepeluh beberapa teman saya sudah lihai menuangkan ide lewat tulisan dan akhirnya sedikit demi sedikit berani untuk mempresentasikan tulisannya secara lisan. Awal-awal tentu masih grogi. Mencoba kedua kali mungkin masih kaku. Ketiga kali mulai sedikit cair. Umumnya, tak sampai 7 kali berbicara sudah lancar. Insya Allah asalkan setiap kali mencoba dievaluasi dan dimintakan pendapatnya kepada orang yang membimbing kita atau orang-orang di sekitar kita tentang gaya kita ketika menyampaikan presentasi. Evaluasi itu perlu, untuk mengukur tingkat keberhasilan kita dari satu percobaan ke percobaan berikutnya.
Intinya: menulislah dan terus menulis agar kita lancar, dan sangat boleh jadi juga pada akhirnya kita memiliki keahlian berbicara. Memang, tidak semua mahir dalam kedua bidang tersebut secara sekaligus sama bagusnya. Tapi setidaknya kita bisa memiliki standar yang dibutuhkan untuk bisa menyampaikan informasi dengan benar dan baik melalui tulisan maupun lisan. Tetaplah menulis!
Salam,

Untuk Apakah Unta Diciptakan?

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan” (QS Ghasiyyah [88]: 17)

Yang menjadikan unta “makhluk hidup istimewa” adalah struktur tubuhnya, yang tidak terpengaruh oleh kondisi alam paling keras sekalipun. Tubuhnya memiliki beberapa keistimewaan, yang memungkinkan unta bertahan hidup berhari-hari tanpa air dan makanan, dan mampu mengangkut beban ratusan kilogram selama berhari-hari.
Punuk unta sebagai simpanan makanan
Punuk unta, yang berupa gundukan lemak, menyediakan sari makanan bagi hewan ini secara berkala ketika ia mengalami kesulitan makanan dan kelaparan. Dengan sistem ini, unta dapat hidup hingga tiga pekan tanpa air. Selama masa ini, unta kehilangan 33% berat badannya. Dalam kondisi yang sama, seorang manusia akan kehilangan 8% berat badannya dan meninggal dalam waktu 36 jam, dan kehilangan seluruh air dari tubuhnya.
Bulu tebal yang menyekat panas
Bulu tebal yang tidak tertembus pada tubuh unta mencegah matahari padang pasir yang terik mencapai kulitnya. Bulu ini juga menghangatkan unta dalam kondisi cuaca yang membekukan. Unta padang pasir tidak terpengaruh oleh suhu hingga setinggi 50 C, dan unta Baktria yang berpunuk dua mampu bertahan hidup pada suhu hingga serendah -50 C. Unta jenis ini mampu bertahan hidup bahkan pada lembah-lembah dataran tinggi, 4000 m di atas permukaan laut. Unta Dromedari dapat bertahan pada suhu -52 C, di wilayah-wilayah paling tinggi di Asia Tengah.
Bulu tebal ini terdiri atas rambut yang tebal dan kusut, yang tidak hanya melindungi tubuhnya dari kondisi cuaca dingin maupun panas, tetapi juga mengurangi kehilangan air dari tubuh. Unta Dromedari dapat memperlambat penguapan air dengan meningkatkan suhu tubuhnya sampai 41 C. Dengan cara ini, ia mencegah kehilangan air.
Daya tahan luar biasa dari lapar dan haus
Unta dapat bertahan hidup tanpa makanan dan air selama delapan hari pada suhu 50 C. Pada masa ini, ia kehilangan 22% dari keseluruhan berat badannya. Sementara manusia akan sekarat jika kehilangan air setara dengan 12% berat badan, seekor unta kurus dapat bertahan hidup kendatipun kehilangan air setara dengan 40% keseluruhan berat badan.
Penyebab lain kemampuannya bertahan terhadap haus adalah adanya mekanisme yang memungkinkan unta meningkatkan suhu tubuh-dalamnya hingga 41 C. Dengan demikian, ia mampu meminimalkan kehilangan air dalam iklim panas yang ekstrem di gurun pasir pada siang hari. Unta juga mampu mengurangi suhu tubuh-dalamnya hingga 30 C pada malam yang dingin di padang pasir.
Unit penggunaan air yang baik
Unta mampu mengonsumsi air hingga 30 liter, yaitu sekitar sepertiga dari berat badannya, dalam waktu kurang dari 10 menit. Di samping itu, unta memiliki struktur selaput lendir dalam hidungnya yang seratus kali lebih besar dari yang ada pada manusia. Dengan selaput lendir hidungnya yang besar dan melengkung, unta mampu menyerap 66% kelembapan yang ada di udara.
Pemanfaatan maksimal makanan dan air
Sebagian besar binatang mati keracunan ketika urea yang tertimbun dalam ginjal berdifusi ke dalam darah. Akan tetapi, unta menggunakan air dan makanan secara maksimal dengan melewatkan urea ini berkali-kali melalui hati. Struktur darah dan sel unta dikhususkan untuk membuat hewan ini hidup lama tanpa air dalam kondisi padang pasir.
Dinding sel hewan ini memiliki struktur khusus yang mampu mencegah kehilangan air secara berlebihan. Di samping itu, komposisi darah mencegah terjadinya pelambatan peredaran darah, bahkan ketika jumlah air di dalam tubuh unta berkurang hingga batas minimum. Selain itu, dalam darah unta terdapat lebih banyak enzim albumin, yang memperkuat ketahanan terhadap haus, dibandingkan dalam darah makhluk hidup lain.
Punuk adalah pendukung lain bagi unta. Seperlima dari seluruh berat badan unta tersimpan dalam bentuk lemak pada punuknya. Penyimpanan lemak tubuh hanya pada satu bagian tubuh mencegah pengeluaran air dari seluruh tubuhnya-yang berkaitan dengan lemak. Ini memungkinkan unta menggunakan air secara minimum.
Walau mampu mengonsumsi 30-50 kg makanan dalam sehari, dalam kondisi yang keras unta mampu bertahan hidup hingga sebulan hanya dengan 2 kg rumput sehari.
Mereka bahkan dapat memakan duri
Unta memiliki bibir yang sangat kuat dan mirip karet, yang memungkinkannya memakan duri yang cukup tajam untuk menusuk kulit tebal. Di samping itu, unta memiliki lambung berbilik empat dan sistem pencernaan yang sangat kuat, yang mampu mencerna apa pun yang ia makan. Ia bahkan mampu memakan bahan-bahan seperti karet India, yang tidak dapat dianggap sebagai makanan. Sungguh jelas bagaimana pentingnya kualitas ini pada iklim yang sedemikian kering.
Perlindungan terhadap badai pasir
Mata unta memiliki dua lapisan bulu mata. Bulu mata ini saling kait seperti perangkap dan melindungi matanya dari badai pasir yang kuat. Selain itu, unta mampu menutup lubang hidungnya, sehingga pasir tidak dapat masuk.
Perlindungan terhadap pasir yang membakar
Lututnya tertutup kapalan, yang terbentuk dari kulit sekeras dan setebal tanduk. Ketika hewan ini berbaring di pasir yang panas, struktur berkapalan ini melindunginya dari luka akibat permukaan tanah yang sangat panas.
Kaki unta, yang terlalu besar bagi tungkainya, secara khusus “didesain” dan diperlebar untuk membantunya berjalan di atas pasir tanpa terperosok. Kaki ini telapaknya luas dan menggembung. Selain itu, kulit tebal khusus di bawah telapak kaki merupakan perlindungan terhadap pasir yang membakar.
Marilah kita berpikir dengan mengingat informasi tersebut:
Apakah ia dengan sendirinya menyesuaikan diri dengan kondisi padang pasir? Apakah ia dengan sendirinya membentuk lapisan lendir dalam hidungnya atau punuk di punggungnya?
Apakah ia dengan sendirinya mendesain hidung dan struktur matanya agar mampu melindungi diri dari dari angin tornado dan badai? Apakah ia dengan sendirinya mendesain darahnya sendiri dan struktur selnya sendiri berdasarkan prinsip penghematan air?
Apakah ia dengan sendirinya memilih bentuk bulu yang menutupi tubuhnya? Apakah ia mengubah dirinya sendiri menjadi “kapal padang pasir”?
Sebagaimana makhluk hidup lain, unta sudah pasti tidak dapat melakukan satu pun dari hal-hal tersebut dan membuat dirinya bermanfaat bagi manusia. Ayat di dalam Al Quran,
“Tidakkah mereka memperhatikan unta; bagaimana ia diciptakan?”
mengarahkan perhatian kita kepada penciptaan hewan luar biasa ini dalam bentuk terbaik. Sebagaimana makhluk lain, unta juga dilengkapi banyak kualitas istimewa, lalu ditempatkan di muka bumi sebagai tanda kebesaran sang Pencipta.
Unta diciptakan dengan ciri-ciri fisik yang luar biasa ini untuk melayani umat manusia. Umat manusia sendiri diwajibkan untuk melihat penciptaan di seluruh jagat raya dan tunduk kepada sang Pencipta segala makhluk: Allah SWT.[]

Kursus Menulis ONLINE: Fiksi; Nonfiksi, dan Skenario

Assalaamu’alaikum wr wb
Banyak orang menyangka menulis itu susah. Tapi nyatanya, banyak juga orang yang berhasil menulis. Sebagian besar yang sudah bisa menulis, selalu memotivasi bahwa menulis itu gampang. Ya, sebenarnya menulis itu memang GAMPANG, tapi ada CARANYA. Saya sendiri termasuk yang bisa menulis karena belajar. Saya belajar kepada orang-orang yang sudah bisa menulis tanpa mereka tahu bahwa mereka sedang saya “porotin” ilmunya. Saya belajar dan terus belajar. Melalui karya-karya penulis idola saya, melalui bukunya, tulisan-tulisan singkatnya, tips-tipsnya, sebagian bahkan saya tanya langsung. Alhamdulillah akhirnya saya bisa menulis.
Berbekal pengetahuan dan pengalaman, saya dan kawan-kawan ingin berbagi juga untuk belajar. Itu sebabnya, saya membuat website khusus seputar penulisan. Silakan KLIK: www.menuliskreatif.com. GRATIS. Silakan baca dan koleksi beragam artikelnya sepuas Anda ingin membaca dan mengoleksi.
Tapi… jika Anda ingin belajar langsung dengan para penulisnya, saya dan kawan-kawan insya Allah siap memberikan pelayanan secara profesional. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, saya membuka kursus menulis online. Soal harga? Tentu ada harganya. Tapi insya Allah terjangkau deh. Nggak percaya? Silakan langsung saja klik beberapa link yang sudah saya siapkan informasinya dari masing-masing kelas penulisan:
  1. KELAS NONFIKSI [klik di sini]
  2. KELAS FIKSI [klik di sini]
  3. KELAS SKENARIO [klik di sini]
Semoga bermanfaat.
Salam,

Mantan Pendeta yang Merasa Terlahir Kembali dalam Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Hidayah bisa menghampiri siapa saja. Bila Allah SWT telah berkehendak maka seorang pendeta pun bisa berpaling menjadi Muslim yang taat. Mungkin itulah kisah yang dihadapi Kenneth L Jenkins dalam hidupnya.
Dilahirkan dan dibesarkan dilingkungan yang tergolong agamis, Jenkis adalah seorang pemeluk Kristen Pantekosta di Amerika Serikat. Dia lebih banyak diasuh oleh kakeknya karena ibunya sebagai orang tua tunggal. Pantas bila dia terbilang jamaat yang taat mengingat kakeknya sudah mengajarinya tentang kehidupan gereja sejak kecil. Dan tak heran pula bila di usia enam tahun, dia sudah mengetahui
banyak ajaran dalam Injil.
Setiap hari Minggu, Jenkins menuturkan, seluruh anggota keluarganya selalu pergi ke gereja. Saat seperti itu, ungkapnya, menjadi momen bagi dirinya beserta kedua saudaranya untuk mengenakan pakaian terbaik mereka.  Setelah lulus SMA dan masuk universitas, Jenkins memutuskan untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan. Ia datang ke gereja setiap saat, mempelajari kitab Injil setiap hari, dan menghadiri kuliah yang diberikan oleh para pemuka agama Kristen.
Hal ini membuatnya amat menonjol di kalangan para jemaat. Pada usia 20 tahun, gereja memintanya untuk bergabung. Sejak itulah Jenkins mulai memberikan khutbah kepada para jemaat yang lain. Setelah menamatkan pendidikannya di jenjang universitas, Jenkins memutuskan untuk bekerja secara penuh di gereja sebagai pendakwah. Sasaran utamanya komunitas warga kulit hitam Amerika.
Ketika melakukan interaksi dengan komunitas inilah ia menemukan kenyataan bahwa banyak di antara para pemuka gereja yang menggunakan Injil untuk kepentingan politis, yakni untuk mendukung posisi mereka pada isu-isu tertentu. Kemudian, Jenkins memutuskan untuk pindah ke Texas. Di kota ini ia sempat bergabung dengan dua gereja Pantekosta yang berbeda. Namun, lagi-lagi ia mendapatkan kenyataan bahwa para pendeta di kedua gereja ini melakukan tindakan-tindakan yang menyalahi norma aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi gereja.
Ia mendapatkan fakta di lapangan bahwa sejumlah pemimpin gereja melakukan perbuatan menyimpang tanpa tersentuh oleh hukum. Mendapati kenyataan seperti ini, dalam diri Jenkins mulai timbul berbagai pertanyaan atas keyakinan yang ia anut. ”Saat itu saya mulai berpikir untuk mencari sebuah perubahan,” ujarnya.
Perubahan yang diinginkan Jenkins datang ketika ia mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan di Arab Saudi. Setibanya di Arab Saudi, ia menemukan perbedaan yang mencolok dalam gaya hidup orang-orang Muslim di negara Timur Tengah tersebut. Dari sana kemudian timbul keinginan dalam diri pendeta ini untuk mempelajari lebih jauh agama yang dianut oleh masyarakat Muslim di Arab Saudi.
Perlahan, dia mulai mengagumi kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul yang diutus untuk membawa Islam. Dan dia pun ingin tahu lebih banyak lagi mengenainya. Untuk menjawab rasa ingin tahunya itu, Jenkins pun memutuskan untuk meminjam buku-buku mengenai Islam melalui salah seorang kerabatnya yang ia ketahui sangat dekat dengan komunitas Muslim. Buku-buku tersebut ia baca satu per satu. Dan, di antara buku-buku yang ia pinjam tersebut terdapat terjemahan Alquran. Ia menamatkan bacaan terjemahan Alquran ini dalam waktu empat bulan.
Berbagai pertanyaan seputar Islam yang ia lontarkan kepada teman-teman Muslimnya mendapatkan jawaban yang sangat memuaskan. Jika teman Muslimnya ini tidak bisa memberikan jawaban yang memadai, mereka akan menanyakan hal tersebut kepada seseorang yang lebih paham. Dan pada hari berikutnya, baru jawaban dari orang tersebut disampaikan kepadanya.
Rasa persaudaraan dan sikap rendah hati yang ditunjukkan oleh para teman Muslimnya ini, diakui Jenkins, membuatnya tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Rasa kekaguman Jenkins juga ditujukan kepada kaum Muslimah yang ia jumpai selama bermukim di Arab Saudi. Agama Islam yang baru dikenal olehnya, menurut Jenkins, juga tidak mengenal adanya perbedaan status sosial. Semua hal yang ia saksikan selama tinggal di Arab Saudi menurutnya merupakan sesuatu yang indah.
Kendati demikian, diakui Jenkins, saat itu dalam dirinya masih terdapat keragu-raguan antara Islam dengan keyakinan yang sudah dianutnya sejak masa kanak-kanak. Namun, semua keraguan tersebut terjawab manakala salah seorang teman Muslimnya memberikan dia sebuah kaset video yang berisi perdebatan antara Syekh Ahmed Deedat dan Pendeta Jimmy Swaggart. Setelah menonton perdebatan tersebut, Pendeta Gereja Pantekosta ini kemudian memutuskan untuk menjadi seorang Muslim.  Kemudian oleh salah seorang kawan, Jenkins diajak menemui seorang ulama setempat, Syekh Abdullah bin Abdulaziz bin Baz. Di hadapan sang ulama, Jenkins pun secara resmi menerima Islam sebagai keyakinan barunya.
Tak butuh waktu lama, kabar mengenai masuk Islamnya Jenkins, telah sampai ke telinga para rekan-rekannya sesama pendeta dan aktivis gereja. Karena itu, setibanya di Amerika Serikat, berbagai hujatan dan kritikan bertubi-tubi datang kepadanya. Tak hanya itu, Jenkins juga dicap dengan berbagai label, mulai dari orang murtad hingga tercela. Ia juga dikucilkan dari lingkungan tempat tinggalnya.
Namun, semua itu tidak membuatnya gentar dan berpaling dari Islam. ”Islam membuat saya seperti terlahir kembali, dari kegelapan menjadi terang. Saya tidak merasa terusik dengan semua itu, karena saya merasa sangat bahagia bahwa Allah Mahakuasa yang telah memberi kan saya petunjuk,” tuturnya.
Ingin Jadi Pendakwah
Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Al-Madinah, Jenkins mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seorang pendakwah. Dia tak akan menghentikan aktivitasnya sebagai seorang juru dakwah, sebagaimana yang pernah ia lakukan saat masih memeluk Kristen Pantekosta. ”Saat ini, tujuan saya adalah belajar bahasa Arab dan terus belajar untuk mendapatkan pengetahuan lebih dalam tentang Islam, selain itu saya sekarang bergerak di bidang dakwah, terutama kepada non-Muslim,” ujarnya.
Mantan pendeta ini juga berharap bisa membuat sebuah karya tulis mengenai perbandingan agama. Karena, menurutnya, adalah tugas umat Islam di seluruh dunia untuk menyebarkan ajaran Islam. ”Sebagai orang yang telah menghabiskan waktu yang lama sebagai penginjil, saya merasa memiliki kewajiban untuk mendidik masyarakat tentang kesalahan dan kontradiksi dari kisah-kisah di dalam Kitab Injil yang selama ini diyakini oleh jutaan orang,” ungkapnya. [republika]

HUKUM BEKERJA DI BANK

Sistem ekonomi dalam Islam ditegakkan  pada  asas  memerangi
riba   dan  menganggapnya  sebagai  dosa  besar  yang  dapat
menghapuskan berkah dari  individu  dan  masyarakat,  bahkan
dapat mendatangkan bencana di dunia dan di akhirat.
 
Hal  ini  telah  disinyalir di dalam Al Qur'an dan As Sunnah
serta telah disepakati oleh umat. Cukuplah kiranya jika Anda
membaca firman Allah Ta'ala berikut ini:
 
     "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.
     Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap
     dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa." (Al
     Baqarah: 276)
     
     "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
     Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum
     dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka
     jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa
     riba) maka ketabuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya
     akan memerangimu ..." (Al Baqarah: 278-279)
     
Mengenai hal ini Rasulullah saw. bersabda
     
     "Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu
     negeri, berarti mereka telah menyediakan diri
     mereka untuk disiksa oleh Allah." (HR Hakim)1
 
Dalam peraturan dan tuntunannya Islam menyuruh umatnya  agar
memerangi  kemaksiatan.  Apabila  tidak  sanggup, minimal ia
harus menahan diri agar perkataan maupun perbuatannya  tidak
terlibat   dalam   kemaksiatan   itu.   Karena   itu   Islam
mengharamkan  semua  bentuk  kerja  sama   atas   dosa   dan
permusuhan,   dan  menganggap  setiap  orang  yang  membantu
kemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya,  baik
pertolongan   itu   dalam  bentuk  moril  ataupun  materiil,
perbuatan ataupun  perkataan.  Dalam  sebuah  hadits  hasan,
Rasulullah saw. bersabda mengenai kejahatan pembunuhan:
 
     "Kalau penduduk langit dan penduduk bumi bersekutu
     dalam membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan
     membenamkan mereka dalam neraka." (HR Tirmidzi)
 
Sedangkan tentang khamar beliau saw. bersabda:
 
     "Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya,
     pemerahnya, yang meminta diperahkan, pembawanya,
     dan yang dibawakannya." (HR Abu Daud dan Ibnu
     Majah)
 
Demikian juga terhadap praktek suap-menyuap:
 
     "Rasulullah saw. melaknat orang yang menyuap, yang
     menerima suap, dan yang menjadi perantaranya." (HR
     Ibnu Hibban dan Hakim)
 
Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan:
 
     "Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi
     makan dengan hasil riba, dan dua orangyang menjadi
     saksinya." Dan beliau bersabda: "Mereka itu sama."
     (HR Muslim)
 
Ibnu Mas'ud meriwayatkan:
 
     "Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba
     dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang
     saksinya, dan penulisnya." (HR Ahmad, Abu Daud,
     Ibnu Majah, dan Tirmidzi)2
 
Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:
 
     "Orang yang makan riba, orang yang memben makan
     dengan riba, dan dua orang saksinya --jika mereka
     mengetahui hal itu-- maka mereka itu dilaknat
     lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga han kiamat."
     (HR Nasa'i)
 
Hadits-hadits sahih yang sharih itulah  yang  menyiksa  hati
orang-orang  Islam  yang  bekerja  di bank-bank atau syirkah
(persekutuan)   yang   aktivitasnya   tidak    lepas    dari
tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa
masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan  pegawai  bank
atau  penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah
menyusup ke dalam sistem ekonomi  kita  dan  semua  kegiatan
yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana
umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:
 
     "Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang
     pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan
     akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya
     maka ia akan terkena debunya." (HR Abu Daud dan
     Ibnu Majah)
 
Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki  hanya
dengan  melarang  seseorang  bekerja di bank atau perusahaan
yang mempraktekkan riba.  Tetapi  kerusakan  sistem  ekonomi
yang  disebabkan  ulah  golongan  kapitalis  ini hanya dapat
diubah oleh  sikap  seluruh  bangsa  dan  masyarakat  Islam.
Perubahan  itu  tentu  saja harus diusahakan secara bertahap
dan  perlahan-lahan  sehingga  tidak  menimbulkan  guncangan
perekonomian  yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan
bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan
perubahan    secara   bertahap   dalam   memecahkan   setiap
permasalahan yang pelik.  Cara  ini  pernah  ditempuh  Islam
ketika  mulai  mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam
hal ini yang terpenting adalah tekad  dan  kemauan  bersama,
apabila  tekad  itu  telah bulat maka jalan pun akan terbuka
lebar.
 
Setiap  muslim  yang  mempunyai  kepedulian  akan  hal   ini
hendaklah  bekerja  dengan  hatinya,  lisannya,  dan segenap
kemampuannya melalui berbagai wasilah  (sarana)  yang  tepat
untuk   mengembangkan   sistem  perekonomian  kita  sendiri,
sehingga  sesuai  dengan  ajaran   Islam.   Sebagai   contoh
perbandingan,  di  dunia  ini  terdapat beberapa negara yang
tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang  berpaham
sosialis.
 
Di  sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di
bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh
orang-orang  nonmuslim  seperti  Yahudi dan sebagainya. Pada
akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.
 
Terlepas dari semua itu,  perlu  juga  diingat  bahwa  tidak
semua  pekerjaan  yang  berhubungan  dengan  dunia perbankan
tergolong riba. Ada diantaranya yang halal dan baik, seperti
kegiatan  perpialangan,  penitipan,  dan  sebagainya; bahkan
sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram.  Oleh  karena
itu,  tidak  mengapalah  seorang  muslim  menerima pekerjaan
tersebut --meskipun hatinya tidak rela-- dengan harapan tata
perekonomian  akan  mengalami  perubahan menuju kondisi yang
diridhai agama  dan  hatinya.  Hanya  saja,  dalam  hal  ini
hendaklah  ia  rnelaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah
menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan  Rabb-nya  beserta
umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya:
 
     "Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia
     niatkan." (HR Bukhari)
 
Sebelum  saya  tutup  fatwa  ini  janganlah  kita  melupakan
kebutuhan  hidup  yang  oleh  para fuqaha diistilahkan telah
mencapai tingkatan darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan
saudara  penanya  untuk  menerima pekerjaan tersebut sebagai
sarana mencari penghidupan dan  rezeki,  sebagaimana  firman
Allah SWT:
 
     "... Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa
     (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan
     tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa
     baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
     Maha Penyayang." (Al Baqarah: 173}
 
Catatan kaki:
1 Hakim mengatakan bahwa hadits ini sahih isnadnya.
2 Tirmidzi mensahihkannya. Hadits ini diriwayatkan pula
  oleh Ibnu Hibban dan Hakim, dan mereka mensahihkannya
 
 
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/KerjaDiBank.html 

Kamis, 22 Juli 2010

Kemajuan Teknologi dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Remaja

Kemajuan Teknologi dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Remaja Dan Masyarakat Bawean


Kemajuan teknologi saat ini tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan dunia kini telah dapat langsung kita ketahui berkat kemajuan teknologi (globalisasi). Kalau dahulu kita mengenal kata pepatah “dunia tak selebar daun kelor”, sekarang pepatah itu selayaknya berganti; dunia saat ini selebar daun kelor, karena cepatnya akses informasi di berbagai belahan dunia membuat dunia ini seolah semakin sempit dikarenakan kita dapat melihat apa yang terjadi di Amerika misalnya, meskipun kita berada di Indonesia.
Tentu kemajuan teknologi ini menyebabkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya. Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat. Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia. Saat ini, di Indonesia dapat kita saksikan begitu besar pengaruh kemajuan teknologi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang di anut masyarakat, baik masyarakat perkotaan maupun pedesaan (modernisasi). Kemajuan teknologi seperti televisi, telepon dan telepon genggam (HP), bahkan internet bukan hanya melanda masyarakat kota, namun juga telah dapat dinikmati oleh masyarakat di pelosok-pelosok desa. Akibatnya, segala informasi baik yang bernilai positif maupun negatif, dapat dengan mudah di akses oleh masyarakat. Dan di akui atau tidak, perlahan-lahan mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran masyarakat khususnya masyarakat pedesaan dengan segala image yang menjadi ciri khas mereka.
Hal yang sama terjadi di Bawean. Sebuah pulau kecil yang terletak sekitar 12 mil di sebelah utara Pulau Jawa ini pun tak luput dari pengaruh kemajuan teknologi (modernisasi) yang melanda belahan dunia saat ini. Banyaknya penduduk pulau Bawean yang tinggal di luar pulau maupun di luar negeri termasuk salah satu dari sekian banyak faktor yang mendukung pesatnya kemajuan teknologi di pulau Bawean ini. Memang, tak dapat di pungkiri bahwa salah satu faktor pendukung kemajuan suatu daerah, terutama daerah terpencil seperti Bawean ini adalah intensitas interaksinya dengan dunia luar/daerah lain.
Bagaimana banyaknya penduduk pulau Bawean yang tinggal di luar pulau terutama luar negeri dikatakan menjadi faktor yang mendukung pesatnya kemajuan teknologi yang ada di pulau Bawean? Hal ini erat kaitannya dengan pendapatan perekonomian masyarakat yang di dapat dari hasil mereka di luar negeri tersebut. Karena, umumnya, mereka yang bekerja di luar negeri, taraf ekonominya relatif meningkat dan secara langsung ataupun tidak langsung menyebabkan perubahan gaya hidup. Dari yang tidak punya televisi menjadi punya televisi lengkap dengan antenna parabola yang dapat menangkap siaran saluran (channel) dari luar negeri, dari yang tidak punya Hand Phone menjadi punya Hand Phone keluaran terbaru sekalipun. Bahkan mereka dapat membeli personal computer (laptop) yang di lengkapi dengan teknologi yang dapat di gunakan untuk mengakses internet secara langsung (wireless). Begitulah asimilasi dan dampaknya terjadi di tengah-tengah masyarakat Bawean saat ini.
Beberapa waktu yang lalu, pesatnya kemajuan teknologi di pulau Bawean semakin semarak dengan masuknya broadband internet dengan akses cepat (Speedy) ke pulau Bawean. Hal ini patut kita syukuri, mengingat begitu cepatnya kemajuan akses informasi saat ini menyebabkan kebutuhan internet adalah niscaya bagi masyarakat Bawean, agar mereka menjadi masyarakat yang tidak ketinggalan informasi. Meskipun hadirnya akses internet cepat (Speedy) di pulau Bawean harus kita syukuri, bukan berarti kita tidak perlu waspada dengan segala dampak yang akan timbul dari masuknya internet ke pulau Bawean tersebut. Karena seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan adanya akses internet ini, tentu dia membawa dampak yang positif dan juga negatif terhadap kehidupan masyarakat di pulau Bawean, terutama kaum remaja yang nota bene selalu tertarik untuk mencoba hal-hal baru, sedang dari segi psikologis, kondisi kejiwaan mereka merupakan usia yang paling rawan terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar. Pertanyaannya sekarang adalah, siapkah masyarakat Bawean dengan adanya kemajuan teknologi yang tak terbendung ini?
Saat ini dapat kita lihat betapa kemajuan teknologi telah mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat Bawean, terutama di kalangan remaja. Saya lebih menekankan dampak teknologi pada kehidupan remaja Bawean dengan alasan merekalah yang lebih dekat dan lebih banyak berinteraksi dengan teknologi seperti televisi, HP, ataupun internet. Dan juga secara pengaruh, merekalah yang paling rentan terkena pengaruh/dampak negatif dari teknologi tersebut. Kalo dulu kita lihat para siswa bersekolah dengan hanya membawa buku-buku pelajaran ataupun alat tulis, kini dapat kita saksikan para siswa berangkat sekolah dengan HP sebagai bawaan wajib mereka. Entah sebetulnya mereka benar-benar membutuhkan HP tersebut sebagai alat komunikasi atau tidak, yang jelas bagi remaja Bawean sekarang, HP merupakan sarana gaul yang mutlak mereka miliki. Semakin bagus HP yang mereka punya, semakin merasa gaul dan percaya dirilah mereka (walaupun mungkin mereka tidak tahu bagaimana cara menggunakan fitur-fitur canggih yang mereka punya di HP mereka).
Dari mana para remaja itu memperoleh HP tersebut? Dapat di pastikan, mereka memperolehnya dari orang tua mereka masing-masing. Mayoritas para remaja di Bawean, orang tuanya bekerja di luar negeri seperti Malaysia atau Singapura. Dan umumnya, para orang tua itu merasa bangga bisa memenuhi segala kebutuhan dan permintaan anaknya tanpa mereka memperhatikan dampak yang akan timbul dari apa yang mereka para orang tua berikan pada anak. Itulah ungkapan kasih sayang orang tua yang mungkin cara penyampaiannya kurang tepat. Dengan memberi anak mereka HP keluaran terbaru, misalnya, mereka merasa telah berhasil sebagai orang tua, tanpa mereka pertimbangkan, akan di gunakan untuk apa HP tersebut oleh anak-anak mereka?
Memberikan alat komunikasi seperti HP kepada anak, sesungguhnya bukan hal yang salah, karena dengan HP tersebut, mungkin orang tua berharap komunikasi dengan sang anak lebih mudah dan lancar, akan tetapi, hal tersebut menjadi boomerang ketika ternyata HP tersebut disalah gunakan oleh anak untuk hal-hal yang negatif seperti menyimpan foto-foto ataupun video porno dan juga di gunakan sebagai alat yang memperlancar komunikasi dengan lawan jenis untuk hal-hal yang kurang bermanfaat seperti pacaran, sehingga dengan HP tersebut berdampak negatif pada anak seperti terjadinya pergaulan bebas, seks di luar nikah dan menurunnya prestasi belajar bahkan juga bisa terjadi anak mengambil uang ataupun barang berharga milik orang tuanya tanpa izin hanya untuk membeli pulsa. Karena itu, orang tua hendaknya benar-benar mempertimbangkan matang-matang segala dampak yang akan timbul sebelum memutuskan untuk memberikan HP ataupun benda-benda lain yang sekiranya berdampak negatif terhadap perkembangan anaknya.
Ketika memutuskan untuk memberikan HP kepada anak, alangkah baiknya orang tua juga mengawasi dan mengarahkan anak agar anak tidak lepas kontrol dalam menggunakan HP. Tidak ada salahnya sewaktu-waktu kita memeriksa HP anak untuk mengetahui isi yang ada di dalamnya dengan meminta ijin anak terlebih dahulu. Karena dengan meminta ijin, anak akan merasa dihargai dan itu memberikan pengaruh yang besar terhadap pribadinya dan juga membentuk kesan positif dalam diri mereka tentang pribadi kita sebagai orang tua. Ketika kita dapati mungkin ada video porno di HP anak, jangan langsung bersikap menghakimi dan menghukum layaknya seorang polisi, akan tetapi alangkah baiknya kita tanyakan kepada anak darimana dia mendapat video itu dan untuk apa dia menyimpannya. Apapun jawaban anak, orang tua tidak boleh bersikap menghakimi dan menyalahkan anak, apalagi memarahi anak dan berlaku ringan tangan. Akan tetapi kita ajak anak berdiskusi/sharing mengenai hal tersebut, apa hal itu bermanfaat dan apa dampaknya bagi anak, dan jangan lupa, ketika berdiskusi, kita juga harus mendengarkan pendapat anak dan memberikan pengarahan yang tepat. Karena apapun alasannya, kekerasan tidak menyelesaikan masalah, sekali kita berlaku kasar apalagi main tangan terhadap anak kita, sesungguhnya kita telah menorehkan luka dihatinya, yang sampai kapanpun luka itu tidak akan pernah sembuh dan akan terus membekas di sanubarinya.
Selain HP, kemajuan teknologi di Bawean juga di tandai dengan masuknya akses internet, internet saat ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan remaja. Lewat internet, mereka bisa mengakses segala informasi dari seluruh dunia. Tentu tak semua informasi yang disajikan adalah informasi yang layak di akses oleh remaja. Karena terkadang lewat internet mereka dapat dengan bebas menyaksikan segala hal yang berbau pornografi dan pornoaksi yang memang dapat di akses dengan mudah di dunia maya (internet). Hal ini tentu menimbulkan efek yang kurang baik bagi perkembangan kepribadian remaja. Dari yang semula mereka merasa tabu tentang seks, sampai akhirnya mereka melihat seksualitas yang di obral di internet tanpa pengarahan serta bimbingan yang tepat dan mereka merasa penasaran bahkan mencobanya. Karena itu, tak heran jika saat ini pergaulan remaja di Bawean menjadi sangat mengkhawatirkan dan meresahkan masyarakat terutama para orang tua.
Televisi, juga merupakan produk modernisasi yang memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan dan perubahan nilai-nilai di masyarakat. Khususnya masyarakat Bawean. Banyak orang meniru gaya hidup dari publik figur yang mereka saksikan lewat televisi. Model baju selebritis terbaru, model potongan rambut terbaru, bahkan juga tak jarang meniru tingkah laku para selebritis yang mereka lihat lewat televisi, tanpa peduli apakah gaya hidup selebritis ataupun publik figur yang mereka tiru dan mereka jadikan sebagai role model itu sesuai dengan kondisi dan situasi dimana mereka tinggal atau tidak. Hal ini juga melanda kalangan remaja, dimana memang pada masa ini adalah masa dimana mereka para remaja mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja, serta menjadikan role modelnya itu sebagai identitasnya. Tak heran jika kita dapati banyak para remaja di Bawean meniru gaya para selebritis idola mereka, dari mulai gaya rambut, gaya berbusana, bahkan gaya pacaran para artis yang mereka saksikan lewat televisi.
Sebagai orang tua, seharusnya mengerti kondisi kejiwaan anak, terutama anak remaja. Menurut para ahli psikologi masa remaja merupakan masa yang paling rentan dalam perkembangan kejiwaan anak. Pada usia remaja ini, anak telah meninggalkan usia kanak-kanak dimana mereka tidak dapat disebut lagi sebagai anak kecil, tapi juga belum bisa di terima dalam kelompok orang dewasa. Pada masa ini anak telah mulai mencari-cari siapa dirinya sebenarnya (looking for identity/Identity formation), berusaha untuk menemukan kelompok atau teman-teman yang mau mengakui kemampuan dan menghargai dirinya dan telah mulai memiliki minat terhadap lawan jenis (minat seksual). Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, dan bisa saja dalam proses pencarian jati diri itu remaja tersebut melalui jalan yang benar atau jalan yang salah. Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas, dan itu akan berdampak tidak baik terhadap perkembangan kepribadiannya dimasa yang akan datang. Itulah kenapa, masa remaja adalah masa yang paling rawan terhadap pengaruh yang datang dari luar. Baik pengaruh positif ataupun pengaruh negatif, disinilah peran sebagai orang tua di butuhkan untuk dapat membimbing dan mengarahkan anak remaja agar tidak kehilangan kontrol dirinya (self control).
Seyogyanya pula sebagai orang tua, selalu memantau perkembangan anak, dengan tanpa mengekang kreatifitas ataupun dunia anak. Karena anak memiliki dunianya sendiri, dimana mereka tinggal dengan segala imajinasi dan juga teman-teman yang mereka miliki. Tugas orang tua lah mendidik dan mengarahkan agar nanti dunia anak kita tidak hanya menjadi dunia yang dipenuhi dengan kegelapan, tapi juga dunia yang diwarnai dengan keceriaan dan kebahagiaan serta dunia dimana mereka menilai citra dirinya (image of self) secara positif dan memiliki rasa percaya diri (self esteem).
Sekarang ini, akibat produk modernisasi seperti televisi, HP ataupun internet, kita dapat melihat bahwa tak ada bedanya gaya hidup masyarakat kota dengan masyarakat desa. Budaya barat yang dahulu hanya di adaptasi dan di tiru oleh masyarakat kota, dengan adanya kemajuan teknologi juga telah melanda masyarakat di pedesaan. Budaya tolong menolong yang dahulu lekat dengan masyarakat desa, lambat laun berkurang meski tidak hilang sama sekali, berganti dengan budaya individualistik. Budaya santun dan lugu yang juga menjadi ciri khas masyarakat pedesaan perlahan mulai pudar dan berganti dengan budaya urakan yang dengan bangga mereka sebut dengan istilah gaul.
Pada hakikatnya, kemajuan teknologi dan pengaruhnya dalam kehidupan adalah hal yang tak dapat kita hindari. Akan tetapi, kita dapat melakukan tindakan yang bijaksana terhadap diri kita sendiri, keluarga dan juga masyarakat luas agar kemajuan teknologi yang semakin dahsyat ini tidak sampai menggeser jati diri kita sebagai manusia yang memiliki norma dan juga nilai-nilai pekerti yang luhur. Bagaimanapun, sebagai anggota masyarakat, dan terutama sebagai orang tua, kita harus melakukan suatu tindakan representative dan preventif, agar semaksimal mungkin dapat mencegah pengaruh negatif teknologi terhadap anak-anak kita khususnya kaum remaja yang merupakan generasi emas yang akan menjadi penerus perjuangan kita membentuk bangsa yang berakhlak dan berbudaya di masa yang akan datang. (Jakarta, 28 agustus 2008)

Media Bawean, 13 September 2008

BY: RAUDHAH EL-JANNAH RAHEEM ULHAQUE S.Pd.I

Rabu, 07 April 2010

Virus Penghancur Kekuasaan

Kita sering menggunakan ataupun mendengar kata adil dan zalim yang terkadang dikaitkan dengan perilaku penguasa. Adil merupakan kemampuan untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya tanpa mengurangi hak yang lain, sedangkan zalim sebaliknya.

Perilaku seseorang akan selalu berada dalam dua posisi ini: adil atau zalim. Tidak ada satu pun manusia biasa yang akan mampu berlaku adil 100 persen. Tapi, ini bukanlah pembenaran bahwa kezaliman merupakan suatu hal yang lazim.

Lantas, seberapa eratkah hubungan antara keadilan atau kezaliman dengan kekuasaan? Jawabannya: sangat erat. Keadilan merupakan kunci keberlangsungan suatu kekuasaan, dan sebaliknya, kezaliman merupakan virus utama yang menghancurkan kekuasaan itu.

Al-Ghassani, seorang ahli sejarah Arab klasik mengatakan, ''Kekuasaan bisa bertahan dalam kekafiran, tapi tidak akan bertahan dalam kezaliman.'' Untuk melihat kebenaran kata hikmah ini, ada baiknya kita melihat bukti-bukti sejarah mengenai jaya dan runtuhnya suatu kekuasaan.

Menjelang jatuhnya kekuasaan Abbasiyah di Baghdad, ada beberapa fakta sejarah yang perlu kita renungkan. Pada saat itu, terjadi kesenjangan yang besar antara orang-orang di lingkaran kekuasaan dan rakyat jelata.

Kelompok pertama hidup sangat mewah, sedangkan kelompok kedua hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Disebutkan, pada saat itu, ulama yang paling hebat hanya berpendapatan 12 dinar per bulan, sedangkan pendapatan rakyat jelata jauh lebih rendah. Akan tetapi, 'Alauddin al-Zhahiri, salah seorang staf kerajaan, berpendapatan 300 ribu dinar dan rumahnya termasuk yang termewah di Baghdad.

Yang juga mencengangkan, Khalifah al-Mustanshir, dalam pesta pernikahannya, memberikan hadiah 100 ribu dinar. Pada pesta pernikahannya pula, Khalifah al-Musta'shim memberikan hadiah 300 ribu dinar. Pendapatannya per tahun mencapai lebih dari 500 ribu dinar. Sebuah jumlah yang sangat fantastis jika dibandingkan pendapatan sehari-hari rakyat jelata.

Bisa dikatakan bahwa pada saat itu, harta negara sebagian besar hanya berputar di kalangan kaum elite, entah itu untuk keperluan berbagai macam pesta, hadiah, ataupun fasilitas pribadi. Tak perlu diragukan lagi, ini merupakan suatu kezaliman.

Berdasarkan kata-kata al-Ghassani di atas, kehancuran Khalifah Abbasiyah merupakan suatu keharusan. Setiap perilaku yang bertentangan dengan asas keadilan akan tersingkir, sebab dunia ini berjalan berdasarkan asas keadilan. Kita perlu berkaca, betapa banyak pemimpin yang jatuh atau dijatuhkan akibat ketidakadilan mereka dalam menjalankan amanat

Oleh Andri Rosadi MA

Rabu, 24 Maret 2010

Mengapa Wanita Mudah Menangis

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. "Ibu, mengapa Ibu menangis?". Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita".
"Aku tak mengerti" kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. "Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti....". Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya. "Ayah, mengapa Ibu menangis?, Ibu menangis tanpa sebab yang jelas". Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan". Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.



Sampai kemudian si anak itu tumbuh menjadi remaja, ia tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan, "Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?"

Dalam mimpinya ia merasa seolah Tuhan menjawab, "Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur. Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa. Kepada wanita, Kuberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa-masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak. Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyadarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya.

Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.

Dan akhirnya Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan.

Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya air mata ini adalah air mata kehidupan". (Hari Teguh Patria)

[ukhuwah.or.id]

Kamis, 14 Januari 2010

Sinetron Indonesia; Idiot dan Banci

Seorang ibu di Jakarta menulis surat pembaca tentang anak balitanya. Beliau menuturkan, tiba-tiba anaknya gagap dan tidak lagi berbicara normal seperti biasa, ibu tersebut amat terkejut. Setelah diselidiki ternyata si anak mengikuti cara bicara Yoyo dalam sinetron “Si Yoyo” yang ditontonnya lewat layar kaca. (Kompas, 20/06/04)

Hmm…rupanya “Si Yoyo” udah mulai makan korban neh. Kok bisa ya? Gimana nggak, kini hampir tiap hari kita disuguhin sinetron kaumnya Yoyo. Ada si Cecep, Lono dalam “Si Kembar”, atau Titi Kamal dalam “Chanda”. Semuanya berkisah tentang orang yang mengalami keterbelakangan mental. Terutama si Cecep dan Yoyo. Yang lainnya, agak-agak idiot. Perilaku mereka pasti jadi tontonan menarik buat anak-anak. Apalagi masa kanak-kanak dike-nal sebagai masa copy-paste alias plagiator ulung. Boleh jadi entar ada anak yang minta gaya rambut antena biar mirip Cecep. Walah!

Kita pasti nggak asing ama “Si Cecep”. Tokoh idiot ini pertama kali sukses diperankan Anjasmara dalam sinetron komedi “Wah... Cantiknya!”. Sosoknya yang jujur, lugu, polos, malah terkesan lolot (dibaca dari kanan ke kiri) bin lemot menjadi bahan tertawaan yang renyah serenyah kentang goreng piatos.

Berikutnya hadir “Si Yoyo” yang diperan-kan Teuku Ryan. Pemuda yang menderita men-talish retardict (keterbelakangan mental) dan sangat dekat dengan dunia anak-anak. Meski idiot, ternyata Yoyo yang sering dimarahin ba-paknya, lebih bijak jalanin hidup dibandingin Cecep yang selalu cengengesan binti ketawa-ketiwi. Tapi tetep bikin enek.

Nggak cukup dengan orang idiot, kaum banci juga makin banyak diangkat ke layar kaca. Sosoknya menjadi menu wajib dalam setiap sinetron. Biar penonton pada ngakak ngeliat kedipan nakal matanya, aksi tangannya yang kriting, atau gaya bicaranya yang cuentil abiz . Figur mereka diwakili oleh ‘Somad' dalam “Cintaku Di Rumah Susun” atau yang terbaru, dalam “Gara-gara Inul” berwujud Sutan Ayu Khairudin alias Sutan Bences yang diperankan Derry Drajat. Parahnya, sosok ini juga hadir di dunia lelembut. Seperti dalam “Tuyul Milenium” dan “Si Manis Jembatan Ancol”. (idih…. Jijay deh eike ngeliatnya!)

Untuk urusan untung-rugi, mata pengelola televisi emang jeli. Nggak nyesel mereka menayangkan produk lokal sejenis Forest Gump . Buktinya, Anjas bin Cecep sam-pai dua kali menggondol predikat “‘Aktor Ter-baik” di ajang Panasonic Award dan juga SCTV Award . Padahal kita tahu sendiri, peran orang idiot atau banci dalam sinetron banyak dikeluh-kan masyarakat seperti penuturan seorang ibu di atas. Tapi kenapa ya para pengelola tv tetep melestarikan peran itu?...(pura-pura mikir ngikutin gaya patung The thinker karya Auguste Rodin). Huhuy!

Apapun demi rating

Sobat muda muslim, kalo lagi ngomongin tayangan televisi, sistem rating nggak boleh ketinggalan. Soalnya, doi udah kadung sohiban banget ama pengelola tv dan rumah pro-duksi. Makanya kalo nggak ikut di-bahas, doi bisa ngambek dan keluyuran ke mana-mana. Akibatnya, para pengelola tv dan rumah produksi dibikin pusing buat ngejar-ngejar rating. Nah lho? Emang siapa sih rating itu? Belagu banget. Apa doi semacam cabang pohon? Itu mah ranting atuh Non! Hihihi (garing ye?)

Seorang pengamat komunikasi, Bang Garin Nugroho menjelaskan, rating adalah suatu sistem yang mengukur daya kepopuleran program televisi dalam perspektif segmen pasar dan demografi serta analisisnya terhadap waktu dan ruang tayang televisi guna memahami daya jangkau suatu produk sponsor kepada khalayak. ( Kompas , 09/06/04).

Moga-moga otak kamu nggak blue screen alias error ya baca penjelasan Bang Garin di atas. Singkatnya, sistem rating adalah ukuran untuk menilai popularitas suatu acara televisi di mata pemirsa. Baik itu sinetron, infotaint-ment, kuis, berita, dll. Kenaikan atau penurunan rating acara itu yang selalu dipelototin tanpa kedip oleh pengelola tv, rumah produksi, dan pemasang iklan. Tingginya rating suatu acara, bakal mengundang banyak sponsor iklan. Pemasukan dari iklan ini yang jadi ladang uang bagi para pengelola tv. Sehingga mereka bisa bernyanyi… kelingking…jari manis…jari tengah…telunjuk… (lagu kebangsaanya para teller bank hehehe)

Buntutnya, pengelola televisi menuntut rumah produksi untuk bikin acara tv yang layak tayang. Syaratnya cuma satu: banyak diminati dan memiliki rating tinggi (idih, nggak nyelipin unsur pendidikan sama sekali). Multivision Plus dan konco-konconya pun berlomba-lomba melakukan investigasi di lapangan. Nyari penampakan yang unik sekaligus menggelitik di lingkungan pemirsa tv. Dengan dalih merespon keinginan pemirsa, mereka pun menyulap kaum banci dan orang idiot menjadi bintang. Dan temen-temennya Cecep, Yoyo, atau Somad dan Sutan Bences pun jadi korban yang kian populer sebagai bahan tertawaan. Duh kaciaaan….

Sobat muda muslim, rupanya gara-gara ngejar rating para pelaku tv suka sekenanya bikin acara. Persis seperti yang dikhawatirkan Bang Garin. Nggak peduli lagi ama kualitas acara yang disiarkan. Biar miskin unsur pendidikan, yang penting… rating man… ratiiing! Ciloko!

Bahaya di balik acara televisi

Saat ini kotak ajaib bernama televisi sudah kita anggap sebagai anggota keluarga. Hampir setiap tetangga kita punya televisi. John Budd, Kepala Seksi Advokasi & Mobilisasi Sosial Unicef, mengatakan, televisi telah menjangkau sekitar 90 % rumah tangga di Asia, termasuk Indo-nesia ( Kompas , 20/06/04). Biar kata rumahnya tipe RS7 alias Rumah sangat sederhana, sempit, sesak, sunyi, senyap, sekali (ini rumah apa kuburan?), selalu ada tempat buat kotak ajaib ini.

Nggak rugi emang punya tv yang petama kali ditemukan oleh Viadimir Kozma Zworykin asal Rusia pada tahun 1923 ini (emang siapa sih yang ngilangin?). Dari alat elektronik ini kita bisa dapetin hiburan, informasi, wawasan, sampe keuntungan materi lewat telekuis. Nggak heran dong kalo Emaknya Oneng suka sewot kalo tv-nya raib dari atas raknya. Sayangnya, ‘anggota keluarga' ini bisa jadi musuh dalam selimut lho. Persis kayak hewan tumbila alias bangsat. Ah yang bener?!

Tenang…tenang…nggak usah pake nyolot gitu. Sebenarnya bukan tv-nya yang jadi musuh, tapi acara-acaranya yang makin amburadul. Dari berita kriminal yang belepotan darah, informasi seputar seks yang diumbar, hingga penampakan makhluk gaib, semua deh ada di situ. Termasuk sinetron komedi tentang orang idiot dan banci. Ini bahaya banget buat perkembangan jiwa anak. Apalagi berdasarkan penelitian YKAI (Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia) seperti dikemukakan B Guntarto, sekarang ini umummya anak sudah mengha-biskan waktunya di depan televisi selama 35 jam seminggu atau sekitar lima jam sehari (idem). Idealnya, anak menonton televisi tak lebih dari dua jam per hari.Walah!

Welldone sobat, masih ada lagi yang kudu kita cermati dari televisi. Yaitu pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau nggak wajar. Dalam ilmu komunikasi, kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Dan televisilah ujung tombak untuk pengopinian itu. Seperti kasus tokoh idiot atau bences dalam sinetron.

Masyarakat jadi terbiasa dengan kehadiran orang yang mengalami keterbela-kangan mental. Terbiasa dalam arti memo-sisikan orang idiot itu sebagai bahan terta-waan, olokan, dan tontonan hiburan. Karena bentuk penerimaan seperti itulah yang sampe kepada mereka melalui sinetron si Cecep atau si Yoyo. Waduh!

Sementara untuk kaum bences alias banci, masyarakat pun mulai mentoleransi keberadaan mereka. Ini yang bikin kita sedih, resah, gundah, dan gelisah. Kok bisa-bisanya orang dibiarin dalam ‘ketidakwajarannya'. Soalnya, dari sejak jamannya Nabi Adam dan Siti Hawa, Allah menciptakan manusia cuma dua jenis aja. Nggak lebih. Lelaki-perempuan, pria-wanita, pemu-da-pemudi, atau remaja-remaji. Itu berarti nggak ada status ketiga dengan sebutan banci, bences, bencong, waria, atau wadam. Kalo pun ada, itu udah melenceng dari kodratnya. Dosa! (lengkapnya soal Waria, lihat Studia edisi 093/15 April 2002. Klik deh www.dudung.net)

Dari Ibnu Abbas r.a. ber-kata: Rasulullah saw. melaknat orang laki-laki yang berlagak perempuan, dan orang perem-puan yang berlagak meniru laki-laki. ( HR Bukhari )

Nah sobat, keadaan yang salah jadi bener dan yang nggak wajar kudu dimak-lumi, udah lazim dalam masyarakat kapitalis. Kenapa? Karena opini itu dibuat oleh para kapitalis biar bisa jadi tambang fulus melalui media massa. Sembari menyebarkan paham untuk proses pengalihan perasaan dan pemikiran dari yang islami menjadi tidak islami. Bahaya banget kan? Ati-ati deh!

Solusi praktis dan sistematis

Sobat muda muslim, protes terhadap ta-yangan televisi yang cuma ngejar rating udah sering dilontarkan. Tapi kagak ngaruh. Kayak kasus sinetron ‘Bunglon' yang diprotes banyak pihak tapi tetep ditayangin. Pengelola tv seolah cuek aja dengan kritikan dari penonton. Kalo rating acaranya tinggi, the show must go on . Ibarat pepatah, anjing mengonggong, Pak Bolot tetep berlalu. Gubrak!

Udah waktunya kita cari jalan keluar dari kemelut ini. Menurut analisis Detektif Conan dan Kindaichi (cieee.. lagaknya tuh!), yang terli-bat dalam masalah acara tv ini nggak cuma pengelola tv, rumah produksi, atau rating yang tinggi. Tapi juga melibatkan pemerintah sebagai instansi negara tertinggi. Makanya ada dua jalan keluar yang bisa kita tempuh.

Pertama , secara praktis kita kudu meminta pemerintah untuk memproduksi atau memilih tayangan cerdas berkualitas. Penuh unsur pendidikan tanpa harus kehilangan sentuhan hiburan. Film dokumenter Harun Yahya atau sinetron Keluarga Cemara bisa menjadi salah satu contoh. Catet, Bro!

Syukur-syukur kalo diputar tayangan cerdas yang islami yang menumbuh-kan semangat berjuang meng-ingat mayoritas penduduk negeri ini muslim. Seperti film ar-Risalah ( The Message ) garapan Mustafa Akkad yang mengisahkan perja-lanan hidup Nabi Muhammad saw.; Children of Heaven yang bercerita ten-tang adik-kakak yang pake sepatu gantian biar bisa sekolah; atau pengajaran tata cara berwudhu, shalat, dan doa sehari-hari.

Ditambah kisah-kisah perjuangan para pahlawan Islam yang kini makin banyak dibuat dalam bentuk VCD seperti Khulafa ar-Rasyidin atau The Lion of Desert . Malah ada yang kartun juga lho seperti Hancurnya Pasukan Gajah , Nabi Ibrahim dan Namrudz , atau Petualangan Si Salman . Bagusnya lagi kalo disiarin pada jam-jam pas anak-anak betah di depan TV. Kalo be-gini kan asyik. Generasi muda muslim jadi nggak asing ama agamanya sendiri. Yo'i gak pren?

Yang kedua , dan ini yang terpenting yang akan mengokohkan solusi pertama. Negara kudu berani menolak kapitalisme, mengubur sekulerisme, dan menerapkan aturan Islam. Dengan aturan Islam negara akan melarang beredarnya tayangan berbau syirik, mengum-bar seks, eksploitasi idiot dan banci, atau gambaran gaya hidup sekuler orang-orang Barat. Tayangan cerdas berkualitas seperti yang diharapkan, akan menemani hari-hari kita di ruang keluarga. Hmm… indahnya. Karena itu nggak bosen-bosennya kita ngajak semuanya untuk aktif dalam dakwah. Terapkan syariah, tegakkan khilafah. Biar kita semua dapet ber-kah. Yuk ah, jangan tunggu hari esok! [hafidz]


28 Juli 2004 - 17:43
Edisi 206/Tahun ke-5 (2 Agustus 2004)

SISTEM PENDIDIKAN ISLAM : ALIRAN PENDIDIKAN ALTERNATIF

    Sistem pendidikan Islam, yang di bahas disini dalam konteks ideal. Suatu sistem tidak akan berdiri sendiri karena suatu sistem tersebut pasti dipengaruhi dengan sistem yang lain. Sistem pendidikan, kebijakan-kebijakannya selalu dipengaruhi oleh sistem yang lain (sistem politik, ekonomi, pemerintahan, dsb). Jadi kesimpulannya, sistem pendidikan Islam bisa berjalan secara optimal dan dalam pelaksanaannya berjalan lancar bila diterapkan dalam sistem Islam. Jika sistem pendidikan Islam diterapkan pada sistem selain Islam (misal: sistem sekuler sekarang ini) bisa saja, tetapi tidak akan optimal dan pelaksanaanya akan mengalami banyak sekali hambatan dan rintangan.
 Inilah gambaran umum sistem pendidikan Islam yang diterapkan pada sistem Islam:

Asas Pendidikan  
Kurikulum pendidikan wajib berlandaskan aqidah islamiyah. Mata pelajaran serta metodologi penyampaian pelajaran seluruhnya disusun tanpa adanya penyimpangan sedikitpun dalam pendidikan dari asas tersebut. Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar diseluruh jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta.
Pengertian bahwa aqidah Islam menjadi asas pandidikan bukan berarti semua ilmu pengetahuan harus bersumber dari aqidah Islam. Hal ini bertentangan dengan relitas, sebab tidak semua ilmu pengetahuan bersumber dari aqidah Islam.

Tujuan Pendidikan  
Tujuan pendidikan adalah suatu kondisi ideal dari objek didik yang akan dicapai, ke arah mana seluruh tujuan pendidikan diarahkan. Tujuan pendidikan adalah (1) membentuk pola pikir dan pola jiwa islami (berkepribadian Islam), (2) menguasai tsaqofah Islam, dan (3) menguasai berbagai ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan kehidupan (sains teknologi dan keahlian) yang memadai. Metode penyampaian pelajaran dirancang untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. Setiap metodologi yang tidak berorientasi pada tujuan tersebut dilarang.
Waktu Belajar
    Waktu pelajaran untuk ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab yang diberikan setiap minggu harus disesuaikan dengan waktu pelajaran untuk ilmu-ilmu lain, baik dari segi jumlah maupun waktu.
Ilmu Terapan
    Ilmu-ilmu terapan -seperti olahraga- harus dipisahkan dengan ilmu-ilmu tsaqofah. Ilmu-ilmu terapan diajarkan menurut kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan tertentu. Ilmu-ilmu tsaqofah diberikan mulai tingkat dasar sampai tingkat aliyah sampai dengan rencana pendidikan yang tidak bertentangan dengan konsep dan hukum Islam. Ditingkat perguruan tinggi ilmu-ilmu tsaqofah boleh diajarkan secara utuh seperti halnya ilmu pengetahuan yang lain, dengan syarat tidak mengakibatkan adanya penyimpangan dari tujuan pendidikan
Tsaqofah Islam
Tsaqofah Islam harus diajarkan disemua tingkat pendidikan. Untuk tingkat perguruan tinggi hendaknya diadakan / dibuka berbagai jurusan dalam berbagai cabang ilmu ke-islaman, disamping diadakan jurusan lainnya seperti kedokteran, teknik, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.
Ilmu dan Tsaqofah
    Ilmu kesenian dan keterampilan dapat digolongkan sebagai ilmu pengetahuan, seperti perdagangan, pelayaran, dan pertanian yang boleh dipelajari tanpa terikat batasan atau syarat tertentu; dan dapat juga digolongkan sebagai tsaqofah apabila telah dipengaruhi oleh pandangan hidup tertentu, seperti seni lukis dan pahat tidak boleh dipelajari apabila bertentangan dengan pandangan Islam.
Biaya Pendidikan
Program wajib belajar berlaku atas seluruh rakyat pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Negara wajib menjamin pendidikan bagi seluruh warga dengan cuma-cuma , yang dananya diambil dari baitul maal ,serta mereka diberikan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dengan cuma-cuma dengan fasilitas sebaik mungkin. Sistem pendidikan bebas biaya dilakuakan oleh para sahabat (ijma’) termasuk pemberian gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar (guru, dosen, dsb).
Sarana dan Media Pendidikan  
Negara wajib menyediakan , perpustakaan, laboratorium dan sarana ilmu pengetahuan lainnya, disamping gedung-gedung sekolah, universitas untuk memberi kesempatan bagi mereka yang ingin melanjutkan penelitian dalam berbagai cabang pengetahuan, seperti fiqh, ushul fiqh, hadist, dan tafsir, termasuk dibidang ilmu murni, kedokteran, teknik, kimia, dan penemuan-penemuan baru (discovery and inventation) sehingga lahir ditengah-tengah umat sekelompok besar mujtahidin dan para penemu. Sarana pendidikan lain semacam pemancar radio, televisi, surat kabar, majalah, dan penerbitan dapat dimanfaatkan oleh siapapun.
Hak Penerbitan dan Hak Cipta  
Tidak dibolehkan hak milik dalam mengarang buku-buku pendidikan untuk semua tingkatan. Tidak dibolehkan seseorang -baik itu pengarang ataupun bukan- memiliki hak cetak dan terbit, selama sebuah buku telah dicetak dan diterbitkan. Jika berbentuk pemikiran yang dimiliki seseorang dan belum dicetak atau beredar, maka ia boleh mengambil imbalan (berupa emas seberat buku tsb) karena memberikan jasa pada masyarakat, seperti halnya mendapatkan gaji dalam mengajar.
Catatan kaki:
1.    Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Islam
2.    Hafidz Abdurrahman, Optimalisasi Negara dalam Penyelenggaraan Pendidikan Generasi Cerdas Generasi Peduli Bangsa
3.    Dr. Samih Athif Az Zain, Al Islam Khuthuthun Aridhah: a; Iqtishod, al Hukm, Al Ijtima

Sisi Gelap Pacaran

Sumber: Buletin Studia Bogor
Edisi 149/Tahun ke-4 (16 Juni 2003)

Sisi Gelap Pacaran

Hoyaaaa… lagi mojok berdua neh! He.he.. jangan mendelik dong kalo emang ngelakuin. Bo..abo.. banyak juga neh remaja yang punya prinsip mojok terus, gesek terus, en tempel terus ama gandengannya (idih, emangnya truk?). Hmm… aneh bin ajaib memang. Urusan cinta yang diwujudkan lewat pacaran kadang nggak kenal tempat dan waktu. Kalo udah demen, nyosor terus ampe lupa kanan-kiri. Dunia serasa milik berdua doang. Orang lain mah suruh tinggal di planet senen, eh, planet pluto sekalian.

Saking menjamurnya budaya pacaran, di angkot, di pasar, di kereta, di bus, termasuk di sekolah, mudah kamu jumpai remaja yang saling memadu kasih. Lihat juga di taman kota, di trotoar jalan, termasuk di perpus. Perpus? Nggak salah? Suasananya hening lho buat mojok. Kali aja makin hot! Astaghfirullah…

Udah gitu nggak kenal waktu, bisa siang hari, bisa malam hari. Pokoknya gebet terus sampe pagi. Malam hari banyak juga lho yang sok romantis, pake gantian ngitungin jumlah bintang di langit segala, ngobrol ngalor ngidul di bawah sinar rembulan yang jatuh ke bumi, duh kayak di sinetron jadinya (eh, pas meremas jari pacarnya, ternyata jempol semua! Bukan orang kaliii.. Huhuy kebanyakan nonton Kismis tuh!) J

Sobat muda muslim, ngomong-ngomong apa sih definisi pacaran? Kalo orang hukum bilang, pacaran adalah kontrak sosial antara laki dan wanita dalam satu ikatan dengan tujuan untuk menikah. Hmm.. bener nggak sih? Buktinya banyak yang cuma main-main doang. Lha iya, anak SD dan SMP udah pacaran, apa mereka mikir mo langsung nikah? Kayaknya, kata orang Betawi mah, “ kagak nyaket di otak dah!” Pendek kata, nggak masuk akal, sobat.

Sayangnya, pacaran udah jadi tren lho. Jangan kaget kalo ada remaja yang nggak ngelakuin pacaran, bakalan dicap sebagai kampungan, norak, dan super kuper. Sebaliknya, mereka yang jadian mengikat janji sama pasangannya, dianggap wajar karena tuntutan jaman. Wasyah! Apa nggak kuwalik neh?

Memangnya kalo jaman berubah, kita juga kudu selalu berubah? Nggak lha yauw. Kita lihat-lihat dulu. Kalo itu berubah kepada kebe¬naran, ya kita ikutin dong. Tapi kalo ngajak beru¬bah untuk berani maksiat, entar dulu. Tahan.

Ngomong-ngomong soal semen, eh, pacaran, kita jadi kepikiran, bener nggak sih pacaran itu halal? Bener nggak sih pacaran itu banyak ruginya? Emangnya kalo udah pacaran kita boleh ngelakuin apa aja dengan pacar kita?



Ta’ruf, Taqarrub, dan ta’ tubruk

Remaja sekarang pada pinter ngeles lho.. (yang pinter mah..), pake ngedalil segala. Seolah-olah bakal ditolerir agama dengan dalilnya yang asal-asalan itu. Nggak lha yauw. Saat kamu membanting kartu gaple dengan balak enam sambil menyebutkan, “ini rukun iman”, tentunya bukan berarti main gaple jadi kegiatan yang islami lho. Nggak. Begitu pun dengan pacaran. Jangan mentang-mentang aman aja lho kalo kamu berdalih bahwa deketan sama lawan jenis sebagai bagian dari ta’ruf yang diajarkan agama sambil menyitir ayat tentang diciptakannya manusia dalam kultur dan suku yang berbeda-beda, yang tiada lain adalah untuk saling mengenal. Gubrak!

Jelas salah alamat sobat. Kamu yang pacaran dengan mengaku-ngaku lagi ‘ta’ruf’ kayaknya cuma kedok doang deh. Memangnya kalo pengen kenalan dengan lawan jenis itu kudu nempel terus dan berduaan aja?

Ada teman kamu yang ngelakuin pacaran kok kayaknya seperti udah jadi suami-istri. Nyebutnya aja “mamah-papa”. Itu dilakukan demi mengenal lebih dalam karakter masing-masing. Kata mereka, dengan semakin dekat kita berhubungan, semakin mengetahui kebiasaan pasangannya; mudah marah apa nggak, suka rewel atau justru asyik-asyik aja, kalo makan gembul apa nggak (harus bisa mengontrol jatah beras neh! He..he..he..), kita jadi tahu makanan kesukaannya, ngeh minuman favoritnya, dan sebagainya.

Nah, kalo udah cukup ‘kenal’ luar-dalam, bisa jadi gampang juga untuk deketan. Pengen lebih deket, makin deket, dan deket banget. Nggak heran, awalnya cuma mau temenen, eh, malah demen? Kalo udah kecantol begitu, setiap pasangan jadi nggak ragu untuk membuka diri. Hmm… jangan kaget kalo akhirnya nggak cuma berani kirim SMS or e-mail dong, tapi mulai coba dengan yang lebih iteraktif; nelpon. Bagi mereka yang udah kebelet (emangnya mo buang hajat?), pengennya deketan terus. Dalam kondisi seperti itu, udah berani main ke rumah atau ngajak jalan bareng ke mana mereka suka. Sebab kata orang, cinta terasa makin kuat justru kalo berjauhan. Sebuah kenyataan yang bertolak belakang dengan efek doppler yang justru kekuatannya makin terasa lemah jika saling menjauh (moga kamu inget salah satu kajian dalam ilmu fisika ini).

Sobat muda muslim, hati-hati deh. Kalo udah ‘ta’ruf’ dan pengennya ‘taqarrub’, sangat boleh jadi akhirnya ‘ta’ tubruk’ alias main nyosor terus. Pikirnya, mana ada ku¬cing yang ta¬han jika mangsanya ngasih pelu¬ang. Mana ada yang ta¬han godaan kalo udah lengket-mas¬ket begitu. Bener, pake prinsip manajemen lagi; sedikit bicara banyak bekerja. Nggak ada jaminan deh kalo udah nempel begitu tanganmu nggak gerilya kemana-mana. Yee.. jadinya antara nafsu dan cinta jadi bias. Gubrak, itu namanya peluang untuk saling ‘menubruk’ makin terbuka. Jadi jangan bingung kalo kemudian kamu bisa baca di koran tentang seks bebas remaja ibu kota, juga tentang angka aborsi yang kian meroket, dan menularnya PMS (penyakit menular seksual). Hih, syerem abis!



Ruginya pacaran

Kamu kudu ngeh juga soal yang satu ini. Rugi di akhirat udah jelas. Rugi di dunia juga sebetulnya sejelas siang hari. Cuma, bisa dinetralisir dengan ‘kenikmatan’ yang langsung didapat. Dasar! Pengen tahu lebih detil? Mari kita tunjukkan.

Pertama, pacaran diduga kuat bikin kantong bolong (biasanya untuk anak cowok). Gimana nggak, kamu jadi kudu nyiapin anggaran lebih; selain buat diri kamu, tentunya biar disebut care ama yayang-nya, kalo jalan kudu punya pegangan. Malu dong kalo jalan nggak punya duit. Entar diledekin pake plesetan dari lagunya Bang Iwan Fals, “Jalan bergandengan tak pernah jajan-jajan…” (he..he..). Itu sebabnya, anak cowok kudu nyiapin segalanya buat nyenengin sang pacar. Iya dong, masak makan sendirian kalo lagi jalan bareng? Emangnya pacar kamu obat nyamuk dianggurin aja? So, pastinya kamu bakalan kena ‘roaming’ terus (backsound: rugi dah gua..).

Tapi jangan salah lho, bisa jadi anak cewek juga kudu nyiapin dana (kalo nggak minta ke ortu nodong sama pacarnya—he..he.. teman cowoknya kena juga deh). Buat apa? Huh, tanpa komunikasi, rasanya dunia ini sepi, bro! buat beli pulsa HP, terus sekarang kan jamannya inter¬net, ya untuk chatting atau kirim-kirim e-mail cinta. Huh! Pacaran berat diongkos namanya. Bener-benar terpadu, alias terpaksa pake duit!

Kedua, bisa kehilangan privasi lho. Iya lah, kamu baru bisa nyadar kalo kamu udah putus sama yayang kamu. Betapa kamu waktu itu udah memberikan informasi apapun sama kekasihmu. Rahasia luar-dalam dirimu bisa kebongkar tanpa sadar. Celakanya, banyak pasangan yang akhirnya putus. Nggak ada jaminan kan kalo akhirnya pacarmu cerita sama yang lain setelah putus sama kamu? Atau… bisa juga putus sama kamu karena udah tahu kebiasaan jelek kamu (koor: kasihan deh eluh!..)

Ketiga, menggangu aktivitas produktif. Iya lah. Sebab, pikiran kamu manteng terus ke si dia. Inget terus sama doi. Maklumlah, bagi kamu yang kena ‘sihir’ kasmaran, pastinya inget terus sama doi. Kayaknya nggak rela kalo sehari aja nggak ketemu or denger suaranya. Nggak afdol kalo tiap jam nggak dapetin update info soal doi (emangnya situs berita? He..he…). Persis kayak pelajar yang saban harinya makan sambel melulu, katanya sih bisa bodoh. Lho? Iya, kalo ‘kerjaan’ makan sambel itu membuat doi lupa belajar (he..he..he..). Nah, pacaran disinyalir bisa membunuh produktivitas kamu. Hari libur joss terus sama pacar kamu; ke tempat rekreasi, ke mall, dan sekadar jalan-jalan nggak jelas juntrungannya. Padahal, bisa dipake untuk istirahat or kegiatan bermanfaat seperti olahraga, ngelancarin belajar ngaji, menghadiri kajian keislaman, dsb. Tul nggak?

Padahal hari biasa juga dipake ngedate terus sama gebetan kamu. Kagak ada matinya. Jadi produktivitasnya berubah. Tadinya mantengin pelajaran dan kegiatan bermanfaat lain, pas pacaran jadi mantengin yayang-nya. Apa itu nggak bikin kamu jadi kismin, eh, miskin produktivitas? Aduh, celaka banget deh!

Keempat, rentan untuk sakit hati. Bener. Kegembiraan bisa berubah jadi kesedihan. Maklum, namanya juga baru pacar, belum ada ikatan kuat yang bisa melindungi kamu berdua. Jadinya, gampang banget untuk putus. Cuma soal perbedaan kecil bisa jadi api yang membara. Ujungnya, putus deh. Kalo udah putus cinta, aduh, sakit rasanya. Bener. Perlu kamu pahami, kebanyakan orang berpacaran adalah petualangan. Jadi, bukan untuk melanggengkan ikatan itu, tapi justru masih cari-cari kecocokan. Bahaya!

Kelima, jangan bangga dulu punya pacar yang tampilannya oke punya. Senyuman mautnya bisa menenangkan kamu, sekaligus bikin gelisah. Siapa sudi kalo punya cowok mata keranjang? Nggak bisa teteg di satu hati. Masih nyari penyegaran dengan akhwat, eh, cewek lain. Siapa tahu malah kamu yang jadi ‘sephia’-nya. Cewek lain justru kekasih sejatinya. Gubrag! (suara satu-suara dua: kasihaaan deh kamu…).

Keenam, beware alias waspadalah! Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan (hei! kok kayak Bang Napi sih? He..he..he.). Gaul bebas bisa bablas euy! Kalo kamu udah saling lengket, jangan harap akal sehat kamu dipake untuk mikir bener. Justru kamu malah bimbang dengan ‘suara-suara’ yang ngomporin supaya melakukan “begituan”. Pastinya kamu nggak mau dong kayak kasusnya Eno Lerian yang menikah karena udah hamil duluan; Married by Accident! Naudzubillahi min dzalik!



Tahan nafsu dong...!

Ingat-ingat pesan Allah dan Rasul-Nya. Jangan mengklaim kebenaran dengan ukuran kamu sendiri. Bahaya. Kamu bisa aja ngasih alasan bahwa pacaran adalah menyenangkan. Itu hak kamu. Tapi jangan salah, kalo kebenaran diserahkan kepada semua orang, bisa berabe. Itu sebabnya kudu ada patokan. Apalagi kalo bukan aturan Allah dan Rasul-Nya. Betul?

 سَبِيلاً وَسَاءَ فَاحِشَةً كَانَ إِنَّهُ الزِّنَا تَقْرَبُوا وَلاَ

“Dan janganlah kamu mendekati zina, karena sesungguhnya zina adalah perbuatan yang ter¬cela dan jalan yang buruk,” (QS al-Isra [17]: 32)

Dari Jabir ra, Rasulullah saw. berkata, “Ingatlah! Janganlah seorang laki-laki menginap di sisi seorang wanita dalam satu rumah, kecuali dia menikahinya atau dia mahramnya.” (HR Muslim)

Dalam sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi Saw. bersabda:“Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka itu?’ Keduanya menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berzina.” Ih, naudzubillahi min dzalik.

Jadi udah deh, pacaran itu nggak ada untungnya. Banyak sisi gelapnya. Rugi dunia-akhirat lagi. Kalo pun menurut kamu ada untungnya, itu kan baru perasaan kamu aja. Betul? Oke deh, kalo pun itu menyenangkan menurutmu, apa ada jaminan kalo aktivitas kamu bebas dari dosa? Justru, pacaran itu menyenangkan atau tidak menye¬nangkan buat kamu, tetep aja haram di mata syariat! Jadi, jangan nekatz berbuat dosa. Waspadalah! n