Rabu, 04 November 2009

Gaul, Syar’i, dan Mabda’i

Eh, ikut gaul emang asyik, lho. Coz lewat pergaulan banyak informasi yang
kita dapetin. Malah kita juga bisa update informasi yang kita punya. Dari
perkembangan teknologi ampe gaya hidup yang lagi trendi. Dari sekadar info
selebritis hingga tempat jajanan yang laris. Semuanya lengkap. Dan tentu
kita bakal nge-rasa pede dalam bergaul kalo nggak ketinggalan informasi.
Nggak jadi kambing congek pas sohib-sohibnya lagi ribut karena nggak nyangka
Adit, akademia dari Surabaya bisa tereliminasi. Nggak cuma mupeng liat
orang-orang asyik browsing and chatting. Apalagi sampe ke-bingungan pas
ketiban rezeki dipinjemin Nokia Comunicator 9210i. Pokoknya, kita nggak
bakal dapet julukan ‘pejabat gatek’ alias pemuda jaman batu yang gagap
teknologi. Hahahaha
Ngomong-ngomong, ada juga lho temen kita yang nggak ngerasa asyik kalo ikut
gaul. Iya, katanya doi takut kebawa-bawa ama pengaruh buruk pergaulan.
Karena dalam pergaulan kan bukan cuma kecanggihan teknologi, tapi ada juga
gaya hidup trendi yang diadopsi dari negerinya Britney Spears. Lebih banyak
Having fun daripada manfaatin masa muda. Kalo nggak ngikut, dibilangnya
nggak solider. Apalagi ama temen deket. Repot banget kalo kudu nolak
ajakannya. Kalo diajak makan sih mending. Nah kalo diajak ngedugem, free
sex, narkoba, atawa malak. Gaswat banget kan?
Nah, sobat muda muslim. Ternyata nggak semua remaja doyan gaul. Ada yang
mikir mendingan tersisihkan dari pergaulan daripada jadi korban. Pendapat
ini nggak salah, karena kita nggak bisa bo’ong kalo remaja yang jadi korban
salah gaul makin banyak. Tapi ada juga yang bilang justru remaja kudu gaul
biar potensi dirinya berkembang. Ini juga bener. Karena sebagai makhluk
sosial, sulit buat kita hidup tanpa orang lain. Lantas gimana dong?
Berikut penuturan seorang psikolog, Bpk. Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi tentang
remaja. Beliau bilang, remaja sama seperti makhluk hidup lainnya bakal
melewati masa penyesuaian diri. Guru biologi kita bilang kemampuan
beradaptasi. Seperti yang dilalui burung penguin hingga kulitnya tahan
dingin walau nggak pake sweater atau syal.
Gitu juga yang dialami jerapah hingga lehernya panjang biar bisa makan
pucuk-pucuk daun. Dalam istilah psikologi, adaptasi itu disebut adjusment.
Yaitu suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan
tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Ka-rena itu karakter remaja akan
sangat dipenga-ruhi oleh faktor lingkungan tempat doi beradaptasi. Catet
yoo!
Nah, ternyata dari sisi teori bergaul emang penting buat remaja. Karena
lewat pergaulan, remaja akan dididik secara tidak langsung untuk
menyesuaikan sisi pribadi maupun sosialnya dengan lingkungan sekitar.
Supaya bisa tetep diakui keberadaannya. Tapi, seperti orang bilang, teori
nggak selalu berbanding lurus ama praktiknya di dunia nyata. Makanya kita
kudu intip fakta pergaulan remaja biar punya sikap terbaik dalam bergaul.
Yuk? Ngikuuut…!
Gaul trend masa kini
Anak gaul nggak boleh amburadul. Prinsip ini yang sering dipegang teguh ama
temen-temen remaja sekarang. Bener lho. Penampilan bagi remaja setara dengan
harga diri. Buruk penampilan alamat terkucil dari pergaulan. Maka-nya tren
penampilan remaja nggak ada matinya. Dari gaya rambut, pakaian, sampe
aksesoris semuanya kudu trendi.
Gaya rambut lurus, hitam, bebas ketombe, bebas kutu, bebas pajak, atau bebas
parkir jadi impian remaji (remaja putri). Meski rambutnya kriba alias kribo
abis, bukan hambatan untuk ikut kontes rambut indah sunsilk. Kalo perlu
di-rebonding abis-abisan pake mobil galendong yang biasa ngeratain jalan
yang mau diaspal. Untuk urusan pakaian juga sama. Basi bin kuno kalo
pakaiannya nggak irit bahan, full press body, atau nggak bikin adre-nalin
cowok marathon. Malah nggak sedikit yang mengamalkan lirik lagunya Tata
Young yang Sexy, Naughty, Bitchy. Walah!
Anak cowok juga nggak mau ketinggalan. Penampilannya pengen kayak Samuel
Rizal atau Nicholas Saputra yang termasuk 11 cowok terseksi dari layar lebar
versi tabloid tv remaja, Gaul. Punya kekuatan magnet untuk menarik
cewek-cewek kece. Gimana nggak, badan macho, seksi, plus camera face. Tahu
kan camera face? Itu lho tipe wajah yang mirip kamera. Baik yang pake blitz
maupun yang nggak. Cocok nongkrong di etalase studio foto bareng kodak (apa
kodok neh?). Hehehe….
Gaya rambut yang trendi, pakaian yang seksi, atau badan yang macho belon pas
tanpa dilengkapi aksesoris. Topi, kalung, anting, gelang, tas, arloji,
ponsel, walkman, atau mp3 player. Semuanya kudu yang paling anyar bin
canggih. Nggak boleh ketinggalan juga informasi terbaru seputar tokoh idola,
musik, film, atau dunia olahraga. Setelah semua peralatan dan perbekalan
seperti di atas udah lengkap, tiba saatnya bagi remaja en remaji untuk unjuk
gigi tebar pesona. Di sekolah, kantin, perpustakaan, mal, ang-kot, mikrolet,
atau metro mini. Pede banget boo!
Tapi ngomong-ngomong, buat apa rem-aja-remaji bela-belain penam-pilannya?
Ih. Plis deh….jangan ‘ppo’ (pura-pura o’on) gitu dong. Ya tentu untuk
menarik perha-tian lawan jenis dong. Soalnya obrolan seputar tips en trik
jitu untuk curi pandang cari perhatian dari lawan jenis udah jadi menu
wajib remaja di se-tiap kesempa-tan. Kan nggak enak kalo ngedugem, ngeliat
konser AFI, nonton Di Sini Ada Setan the Movie, atau ngisi perut paket Hokka
Irrito cuma sendiri. Asyiknya ditemenin demenan. Selain ada temen ngobrol,
kali aja doi juga bisa nraktir. Matre banget neh! Bukan anak gaul namanya
kalo nggak punya hasrat untuk berpacaran atau gaul bebas yang kian tanpa
batas…. tas… tas…
Sobat muda muslim, nggak salah kan kalo kita bilang gaul remaja kian hari
kian identik dengan gaya hidup hedonis. Gaya hidup yang mengejar kesenangan
dunia semata. Materi, popularitas, dan penampilan jadi tujuan utama. Mereka
cenderung untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serba kecukupan tanpa
harus bekerja keras. Buat yang banyak doku, bisa aja ngikutin gaya hidup
ini. Tapi buat yang kere, bisa-bisa malah ikutan casting artis Patroli,
Sergap, atau Tangkap.
Gaya hidup ini juga melahirkan remaja bermental instan. Nggak mau jalanin
proses untuk dapetin keinginannya. Yang penting hasil. Kalo ada jalan tikus
atau pintu belakang, ngapain juga susah-suah lewat depan yang dijaga satpam
en kudu permisi segala. Makanya nggak heran kalo yang ikut audisi AFI dan
Indonesian Idol bejibun banget demi status seorang bintang. Udah gitu,
mereka juga nggak gitu peduli ama orang lain. Yang penting dirinya sukses
dan segala kebutuhannya terpenuhi. EGP (Emang Gue Pikirin alias
individualis) banget tuh!
Gaul syar’i tetep trendi
Sobat muda muslim, pasti kita nggak pengen dong dibilang gagap teknologi en
minim informasi karena kita jarang gaul. Padahal kita yang punya peran
mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Bisa-bisa entar malah
dianggap asing oleh umat kayak Tarzan tour ke Metropolitan. Memang,
pergaulan remaja sekarang udah nggak islami. Tapi bukan berarti kita nggak
gaul. Tetep aja ada kewajiban bagi kita untuk memperhatikan kondisi
sodara-sodara kita. Lha, nanti kalo jadi korban per-gaulan yang salah
gimana?
Nggak usah takut. Karena kita punya Islam. Ya, Islam yang kita pelajari,
yakini, amalkan, dan dakwahkan bakal menjadi pelindung kita. Makanya kita
sebagai remaja muslim boleh aja ikut trendi pake aksesories. Tapi dengan
catatan, cuma terkait dengan hal-hal yang sifatnya mubah. Misalnya
perkem-bangan teknologi. Kita nggak diharamkan punya ponsel terbaru yang
bisa SMS, EMS, atau MMS plus dilengkapi kamera, radio, atau internet. Malah
kita bisa kirim-kiriman sms tausyiah atau tahajjud call at the middle of the
night kepada temen kita. Kan lumayan buat tabungan di akhirat.
Dalam berpenampilan pun Islam nggak mengharuskan hambanya untuk kumel, lecek
bin dekil. Pokoknya bersih, suci dan diperoleh dari jalan halal. Itu
sebabnya, remaja putri boleh pake kerudung bermotif bunga dihiasi renda yang
bagian pinggirnya dineci. Tapi tetep kudu rapi sampai menutupi dada, nggak
kayak kudung gaul yang amburadul.
Jangan lupakan juga jilbab (pakaian kurung yang longgar, tidak transparan,
dan tidak ketat) yang melengkapi kerudung. Model atau desainnya silahkan
bervariasi. Apa mau motif bunga, pohon, binatang, pemandangan, perumahan,
atau perkotaan. Sesuai selera lah. Kainnya juga boleh ‘ngejreng’ dan
warna-warni kayak pelangi. Asal jangan tengsin aja kalo ada yang ngatain
badut. Sundut terus!
Untuk anak laki juga kemana-mana nggak harus pake peci, sarung, koko plus
sendal biar mencirikan muslim. Soalnya setelan kayak gitu lebih mirip
anak-anak yang mo ikutan sunatan massal. Sok aja mo pake celana panjang,
Levis, Lea, Pantalon, yang dipadukan kemeja atau kaos Dagadu, C59, atau H&R.
Asal jangan nggak pake baju or celana aja. Buat anak laki yang punya
jenggot, boleh aja dipanjangin. Tapi nggak usah dikepang kayak si Erwin Dr
PM.
Apalagi sampe dipakein wig atau sanggul. Biar sama-sama rambut tetep aja
nggak cocok. Huhuy!
Satu lagi yang kudu kita perhatiin. Kemampuan kita untuk berpenampilan
trendi atau kecang-gihan teknologi yang dipunya jangan sampe bikin kita jadi
sombong atau arogan. Ingat baik-baik lho sabda Rasulullah saw. seperti ini.
BIar kita juga enak gitu lho. Biar ati-ati banget dalam setiap perbuatan
kita: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan ada
kesombongan (meski hanya) seberat dzarrah. Lalu seorang sahabat bertanya,
“ada kalanya seseorang menyukai pakaian yang indah dan sepatu yang bagus.”
Maka Rasulullah saw. menjawab “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai
keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang
lain.” (HR Bukhari).
Tetep kudu mabda’i
Bener sobat. Meskipun ikut trendi kita tetep kudu mabda’i alias ideologis.
Artinya, ketika gaul tentang segala hal, jadikan sebagai informasi pelengkap
untuk dianalisis dan kita sampaikan lagi ke orang lain dengan sudut pandang
Islam. Jadi, kita dan temen-temen nggak mudah tergoda untuk ikutan tren yang
nggak bener. Apalagi sampai terjerumus ke dalam pola hidup Barat yang
sekuler. Nggak deh!
Makanya kita boleh nyari informasi seputar kehidupan selebritis, film baru
yang lagi diputar di twenty one, atau musik yang lagi banyak digandrungi.
Biar nggak ketinggalan informasi. Lebih bagus lagi kalo kita juga ‘ngeh’ ama
tren gaya hidup remaja. Kan aneh kalo kita bilang pacaran itu haram.
Sementara kita nggak punya wawasan tentang asal-muasal pacaran, akibat yang
ditimbulkan, dan solusi yang ditawarkan. Pokoke kudu komplit biar nggak
tulalit. Jangan sampe berbelit-belit!
Gimana caranya biar tetep mabda’i? Ngaji solusinya. Tentu yang dikaji adalah
Islam sebagai sebuah ideologi. Islam sebagai sebuah aturan hidup yang bisa
memfilter budaya sekular dan ide-ide rusak yang berasal dari Barat. Nggak
cuma itu, sebagai sebuah ideologi, Islam juga mampu membimbing kita dalam
memecahkan setiap masalah yang dihadapi.
Oya, harus dipahami bahwa dalam kondisi masyarakat yang amburadul seperti
sekarang ini, kita harus selektif, Bro. Buat apa tampil “gaul” kalo harus
mengorbankan akidah, iya nggak seh? Mendingan perdalam Islam supaya bisa
selamat dunia dan akhirat. Pelajari Islam, pahami sebagai sebuah ideologi.
Perlu kamu catet baik-baik, bahwa Islam nggak pernah kok ‘alergi’ dengan
yang namanya perkembangan jaman. Welcome aja. Nggak masalah kok. Tapi dengan
catatan, perkem-bangan jaman itu wajib sesuai dengan ajaran Islam. Kalo
nggak? Ke laut aja deh!
Intinya sih, kamu boleh aja gaul tren, tetep syar’i, juga mabdai. Oke?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

post your comment now....